MAUMERE — Aktivitas melaut nelayan di Kabupaten Sikka kembali bergeliat setelah gempa Flores mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hasil tangkapan tuna dan cakalang dilaporkan sudah menembus pasar ekspor. Pasokan ikan yang sempat menipis pascabencana perlahan kembali normal.
Plt Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sikka, Malik Bakhtiar, menyebut pemulihan berlangsung cepat lantaran sarana produksi nelayan tidak terdampak kerusakan. Kerusakan justru terpusat pada area permukiman warga.
Trauma Gempa 1992 Bikin Nelayan Sempat Berhenti Melaut
Sesaat setelah gempa, aktivitas melaut terhenti total. Nelayan memilih bertahan di darat karena trauma terhadap gempa dan tsunami yang pernah terjadi pada 1992. Dampaknya, pasokan ikan di pasar berkurang dan harga naik.
"Kondisi berangsur membaik setelah gempa. Meski para istri nelayan di Kampung Wuring sempat mengungsi di Gelora Samador nelayan, para suami tetap melaut untuk mencari nafkah," kata Malik saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis, 17 September 2026.
Malik menegaskan fasilitas kapal tidak mengalami kerusakan. "Fasilitas kapal tidak mengalami kerusakan. Dampak gempa merusak rumah nelayan," ujarnya.
Rumah Nelayan Rusak, Pendataan Diserahkan ke BPBD
Pihak kelurahan telah mendata kerusakan rumah nelayan. Hasil pendataan diserahkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka untuk penanganan lebih lanjut.
Konsumsi ikan untuk masyarakat dipastikan aman. Nelayan tengah gencar menangkap tuna dan cakalang untuk dijual ke perusahaan penampung besar di Sikka.
"Nelayan terbantu. Mereka dapat membagi hasil tangkapan mereka, sebagian dijual untuk konsumsi masyarakat lokal, dan sebagian lagi dipisahkan untuk dijual ke perusahaan untuk meningkatkan pendapatan mereka," kata Malik.
Produksi Ikan Agustus 2026 Turun, Data Akurat Baru Dihimpun 2027
Tren total produksi ikan tahun 2026 baru bisa dikompilasi secara akurat pada 2027. Secara umum pergerakan produksi ikan untuk sementara masih fluktuatif.
"Pada Agustus 2026 mengalami penurunan produksi karena terhentinya aktivitas melaut selama beberapa hari pasca-gempa. Berbeda dengan Agustus tahun lalu produksi meningkat karena kondisi aman dan bebas dari bencana gempa bumi," ujar Malik.
Jumlah nelayan di Kabupaten Sikka kurang lebih 5 ribu Rumah Tangga Perikanan (RTP). Komposisinya didominasi nelayan penuh, disusul nelayan sambilan utama, sambilan tambahan, dan buruh nelayan.
Mereka tersebar di 17 kecamatan pesisir yang mencakup 86 desa pesisir, antara lain Kecamatan Alok, Alok Barat, Alok Timur, Palue, Lela, Talibura, Paga, dan Bola.
"Jumlah desa masih dalam proses identifikasi ulang karena adanya pemekaran wilayah," kata Malik.
Alok, Alok Barat, dan Alok Timur Jadi Pemasok Ikan Terbesar
Kecamatan Alok, Alok Barat, dan Alok Timur menjadi pemasok ikan terbesar di Kabupaten Sikka. Ketiga wilayah itu memiliki armada kapal besar.
Jumlah armada di Sikka sekitar 4 ribu unit kapal motor. Sebanyak 85 unit merupakan kapal berukuran di atas 10 gross tonnage (GT). Sisanya kapal di bawah 10 GT yang dibuat secara mandiri maupun melalui intervensi bantuan pemerintah.
Dinas Perikanan dan Kelautan mengimbau nelayan tetap mengutamakan keselamatan. Kondisi saat ini masih dalam peralihan pascabencana dengan cuaca musim yang tidak menentu.
"Kami minta nelayan tidak nekat turun melaut jika kondisi cuaca memburuk. Kami juga berharap nelayan tetap menjaga komunikasi dan memberikan informasi mengenai jangkauan daerah penangkapan agar mempermudah informasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," pungkas Malik.