Nikon Selidiki Video Pemenang Small World in Motion 2025 Usai Tuduhan AI

Penulis: Hendra Setiawan  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:18:01 WIB
Nikon meninjau ulang video pemenang Small World in Motion 2025 setelah muncul tuduhan penggunaan AI.

NUSA TENGGARA TIMUR — Nikon tengah meninjau ulang video pemenang kompetisi Small World in Motion yang diduga kuat dihasilkan dengan bantuan kecerdasan buatan. Video yang memperlihatkan silia saluran napas anak itu diklaim direkam dengan mikroskop pada perbesaran 100x oleh Dr. Ning Xu dari Tsinghua University, China. Penyelidikan ini bakal menentukan apakah gelar juara tersebut bakal dicabut atau tetap dipertahankan.

Perdebatan soal batas penggunaan kecerdasan buatan dalam karya ilmiah kembali mencuat setelah video berjudul sama memenangkan kompetisi bergengsi Nikon. Video tersebut menampilkan gerakan silia, struktur mirip rambut halus yang menonjol dari sel saluran napas anak, dan berhasil menyabet juara pertama dalam ajang Small World in Motion.

Kemenangan itu langsung memicu reaksi dari kalangan ilmuwan. Sejumlah pakar meragukan apakah gerakan silia dalam video tersebut benar-benar sesuai dengan perilaku sel yang diketahui secara ilmiah, atau justru hasil rekayasa perangkat lunak.

Klarifikasi Nikon dan Proses Verifikasi Ulang

Nikon merespons tuduhan tersebut melalui komentar di unggahan resminya di LinkedIn. Perusahaan menyatakan sedang meninjau ulang seluruh informasi yang diberikan saat proses seleksi awal, termasuk materi tambahan dari peserta.

Menurut Nikon, Dr. Ning Xu telah memenuhi permintaan mereka dengan menyerahkan dokumentasi teknis rinci. Dokumen itu mencakup peralatan mikroskop yang dipakai, metode pencitraan, hingga teknik pengolahan yang menghasilkan video sumber.

Nikon menyebut bakal memperbarui perkembangan penyelidikan kepada komunitas Small World pada pekan berikutnya. Sampai saat ini, belum ada keputusan resmi soal status juara video tersebut.

Bantahan Dr. Ning Xu Soal Penggunaan AI

Dr. Ning Xu membantah telah melanggar aturan kompetisi. Lewat pernyataan di LinkedIn yang dikutip BBC News, ia menegaskan AI tidak digunakan untuk menghasilkan film eksperimen, silia, maupun gerakannya.

Ia mengakui memakai AI, tetapi hanya untuk membantu membedakan dan memvisualisasikan fitur pada citra grayscale yang telah direkonstruksi. Pengakuan itu menjadi titik sengketa utama dengan para kritikus.

Bukti yang Diajukan Para Kritikus

Sejumlah pengamat menilai penggunaan AI dalam karya tersebut jauh melampaui klaim Dr. Ning Xu. Mereka menyoroti bentuk silia yang tidak cocok dengan perilaku sel yang dikenal, serta ukurannya yang dinilai terlalu besar.

Edward Phelps, Associate Professor dari University of Florida, menyebut ada banyak masalah serius dalam video itu. Ia menyoroti elemen-elemen yang muncul dan hilang secara tiba-tiba serta berpindah antar sel.

Ian Donovan, mahasiswa PhD di UT Southwestern Medical Center, mengklaim menemukan watermark SynthID yang tertanam dalam video. Watermark ini biasanya dipakai untuk menandai konten yang dihasilkan atau dimodifikasi AI.

Dampak ke Kompetisi dan Peserta Lain

Kasus ini menempatkan Nikon pada posisi sulit. Di satu sisi, perusahaan harus menjaga kredibilitas kompetisi sains bergengsi yang sudah berjalan bertahun-tahun. Di sisi lain, mereka perlu memastikan tuduhan terhadap pemenang tidak diambil berdasarkan dugaan semata.

Bagi peserta lain, hasil penyelidikan ini bakal menjadi acuan soal sejauh mana AI boleh dipakai dalam karya yang dilombakan. Aturan kompetisi saat ini memang belum secara eksplisit mengatur batasan penggunaan AI untuk pengolahan citra.

Pengguna dan penggemar fotografi mikroskopi di Indonesia juga menantikan hasilnya. Pasalnya, kompetisi Nikon Small World kerap jadi rujukan bagi peneliti dan fotografer sains lokal yang ingin mengikuti ajang serupa.

Terlepas dari hasil akhirnya, kasus ini menunjukkan bahwa di era AI, karya visual yang luar biasa kini menghadapi tingkat kecurigaan yang jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Publikasi bukti teknis yang transparan jadi kunci mempertahankan kredibilitas di mata komunitas ilmiah.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top