NUSA TENGGARA TIMUR — Kebutuhan energi primer di Asia Tenggara diproyeksikan melonjak 400% hingga 2060, menurut ASEAN Energy Outlook ke-9 yang disusun ASEAN Centre for Energy (ACE). Untuk mengantisipasi lonjakan itu, ACE menilai efisiensi energi dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) jadi dua skenario utama yang bisa dimaksimalkan. Namun keduanya menuntut investasi besar, sekitar US$400 miliar per tahun untuk kawasan ASEAN.
Proyeksi tersebut disusun ACE dalam ASEAN Energy Outlook ke-9. Head of Energy Modelling and Policy Planning ACE Zulfikar Yurnadi mengatakan lembaganya telah menganalisis sejumlah skenario untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi tersebut, dengan efisiensi energi sebagai salah satu opsi utama.
Menurut Zulfikar, efisiensi energi bisa memangkas kebutuhan hingga setengah dari proyeksi peningkatan sampai 2060. Namun ada konsekuensi biaya yang harus ditanggung.
"Kita bisa mengurangi kebutuhan ini bisa sampai setengahnya. Tapi salah satu konsekuensinya adalah nilai investasi yang dibutuhkannya juga akan semakin tinggi. Kita memperkirakan sekitar US$400 miliar per tahun dibutuhkan untuk regional ASEAN untuk bisa mencapai target-target mereka," katanya dalam The Economic CNN Indonesia TV With Rully Kurniawan pada Kamis (29/10) malam.
Zulfikar menegaskan efisiensi bukan jalan murah. Semakin agresif upaya menekan kebutuhan energi, semakin besar belanja investasi yang harus disiapkan negara-negara ASEAN per tahun.
Angka US$400 miliar per tahun itu berlaku untuk level regional, bukan per negara. Artinya, pencapaian target efisiensi dan transisi energi akan bergantung pada seberapa besar masing-masing negara mengalokasikan anggaran dan menarik investasi swasta.
Selain efisiensi, ACE menyoroti pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai skenario lain yang bisa digenjot. Namun Zulfikar menilai negara-negara Asia Tenggara perlu meningkatkan fokus koordinasi agar memiliki pemahaman yang sama dalam mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi.
Koordinasi itu juga diperlukan untuk menjembatani perbedaan kepentingan antarnegara dalam memaksimalkan potensi EBT. Setiap negara memiliki agenda energi masing-masing yang kerap tidak sejalan.
"Tiap negara itu punya interest-nya sendiri, itu PR. Jadi bagaimana caranya kita meyakinkan Indonesia, meyakinkan Singapura, Malaysia dan negara-negara lain bahwa interest mereka nasional dengan interest regional itu sebenarnya sejalan," ujarnya.
Bagi pelaku usaha di sektor energi, proyeksi ACE memberi sinyal bahwa kebutuhan pembangkit, jaringan, dan teknologi efisiensi akan tumbuh besar dalam beberapa dekade ke depan. Investasi US$400 miliar per tahun membuka ruang bagi pendanaan infrastruktur, proyek EBT, hingga teknologi penyimpanan energi.
Namun realisasinya bergantung pada kepastian regulasi dan kerja sama lintas negara. Tanpa harmonisasi kebijakan, potensi pasar sebesar itu bisa berhenti di tahap proyeksi.
ACE menempatkan efisiensi dan EBT sebagai dua jalur yang saling melengkapi, bukan pilihan tunggal. Kombinasi keduanya dinilai paling realistis untuk menahan laju kenaikan kebutuhan energi primer di kawasan yang pertumbuhan ekonominya masih tinggi.