NUSA TENGGARA TIMUR — Startup material Everbloom memperkenalkan renoa, serat tekstil baru yang jadi klasifikasi serat pertama dalam 25 tahun yang disetujui Federal Trade Commission Amerika Serikat. Renoa dibuat dari limbah protein kasmir dan wol, bisa dicuci mesin, dan diklaim lebih terjangkau daripada kasmir asli. Produk pertama berbahan renoa dijadwalkan masuk pasar pada kuartal kedua 2027.
Renoa dikembangkan Everbloom selama tiga tahun terakhir dan kini masuk tahap perluasan produksi. Perusahaan asal New York itu membangun model AI sendiri untuk ilmu material, dan pengganti kasmir menjadi produk pertamanya.
Bahan baku renoa berasal dari sumber protein limbah, termasuk sisa kasmir dan wol serta "lint" bulu dan bulu halus sisa industri perlengkapan tidur. Everbloom mengolah limbah itu menjadi bubuk, mencampurnya dengan biopolimer biodegradable, lalu mengekstrusinya sesuai panjang dan diameter untuk meniru serat alami tertentu.
Apa yang Membuat Renoa Beda dari Kasmir
Kasmir sudah lama jadi bahan favorit industri mode, dari kardigan rajut Bruno Cucinelli seharga US$7.900 sampai crewneck Quince seharga US$50. Loro Piana bahkan menjadikan kasmir pilar lini produknya dan ikut mendorong valuasi divisi LVMH itu di atas €11 miliar.
Namun kasmir tetap mahal, sulit dirawat, dan bermasalah secara lingkungan. Kambing penghasil kasmir disebut telah merusak padang penggembalaan di kawasan Asia Tengah. Renoa menawarkan pengalaman memakai kasmir lewat bahan substitusi yang bisa dicuci dan diklaim lebih ramah biaya.
Uji Pakai: Sweater, Sarung Tangan, dan Syal
Co-founder sekaligus CEO Everbloom Sim Gulati memperlihatkan sejumlah produk berbahan renoa di kantor pusat perusahaan di New York City, lantai 15 di atas Fifth Avenue, tak jauh dari Bryant Park. Produk yang ditunjukkan mencakup sweater crewneck, sarung tangan rajut, dan syal.
Sweater dan sarung tangan terasa lembut dan ringan. Syal jadi barang paling menonjol karena telah melewati perlakuan yang tidak akan bertahan pada syal kasmir murni. Syal custom itu dirajut Everbloom untuk menguji renoa, dan Gulati memakainya serta mencucinya selama berbulan-bulan, termasuk melewati pengering putar sebelum diperlihatkan.
Syal tersebut tidak berbulu (pilled) dan menurut Gulati tidak menyusut. Kasmir asli umumnya rentan terhadap kedua masalah itu setelah pencucian berulang.
Persetujuan Regulator dan Rencana Pasar
Renoa baru-baru ini disetujui sebagai klasifikasi serat baru pertama dalam 25 tahun oleh Federal Trade Commission, regulator yang mengawasi pelabelan serat di Amerika Serikat. Persetujuan ini membuka jalan bagi renoa untuk dicantumkan sebagai kategori bahan tersendiri pada label produk.
Everbloom sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk membawa renoa ke produk konsumen. Produk pertama kemungkinan menempatkan renoa sebagai serat campuran, sekitar 20% dari bahan sebuah sweater kasmir.
Gulati menyebut produk perdana diperkirakan masuk pasar pada kuartal kedua 2027. Campuran 80/20 kasmir-renoa yang dicoba terasa sangat mendekati kasmir asli. Menurut Gulati, proses finishing tambahan pada pakaian komersial akan menghapus perbedaan yang tersisa tanpa mengorbankan daya cuci dan stabilitas pakaian.
Konteks Industri
Adopsi kasmir yang meluas di industri mode mendorong pencarian bahan alternatif yang lebih mudah dirawat dan lebih bersahabat bagi lingkungan. Pendekatan Everbloom memadukan limbah protein tekstil dengan biopolimer dan model AI untuk merancang serat, sebuah pola yang mulai dipakai pemain material science untuk mempercepat pengembangan bahan baru.
Bagi konsumen, kehadiran renoa berpotensi memperluas akses ke sensasi kasmir pada produk yang selama ini menghindari bahan tersebut karena harga dan perawatan. Bagi pelaku industri, persetujuan FTC menjadi sinyal bahwa serat rekayasa dapat masuk jalur komersial resmi di pasar Amerika Serikat.