MAUMERE — Buku tipis berjudul Krisis Kebebasan karya Albert Camus, yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia pada 1988, mendadak relevan di Flores. Di tengah gencarnya proyek panas bumi, kawasan strategis militer, dan rencana tambang, muncul pertanyaan mendasar: apakah masyarakat lokal sungguh diberi kebebasan menentukan masa depannya sendiri?
Apa yang Terjadi Ketika "Kemajuan" Tak Lagi Milik Rakyat?
Pulau Flores yang penduduknya hidup dari pertanian, laut, dan ritus adat kini perlahan diarahkan menjadi "pulau energi panas bumi" dan wilayah tambang. Di balik narasi pembangunan hijau dan investasi nasional, Camus mengingatkan bahwa bahasa “kemajuan” dan “kepentingan umum” kerap dipakai untuk membenarkan pengorbanan rakyat kecil.
“Kebebasan bukanlah hadiah cuma-cuma, tapi hak yang harus terus diperjuangkan,” tulis Camus dalam buku yang ditulis pada 1948, setelah Eropa luluh lantak oleh Perang Dunia II. Tujuh dekade kemudian, bahasa yang sama terdengar di Flores—hanya dengan kemasan berbeda: transisi energi, investasi strategis, kawasan ekonomi khusus.
Untuk Siapa Energi Panas Bumi Itu Diproduksi?
Pertanyaan kunci yang diajukan dalam artikel ini adalah soal siapa yang menjadi subjek pembangunan. Jika listrik dari panas bumi Flores sebagian besar dialirkan ke luar pulau untuk kebutuhan industri nasional, sementara sebagian warga Flores masih hidup tanpa akses energi yang memadai, maka pembangunan itu bukan untuk Flores—Flores hanyalah lokasinya.
Pertanyaan itu, menurut penulis, bukan pemberontakan. “Pertanyaan itu adalah hak—hak yang seharusnya dijawab kepada petani yang berjuang mengolah tanah tanpa kepastian pupuk, kepada nelayan yang ruang tangkapnya menyempit atas nama konservasi, dan kepada setiap masyarakat adat yang hingga hari ini belum memiliki undang-undang yang secara resmi mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak mereka,” tulis artikel tersebut.
Surat Camus dan Cermin untuk Flores
Camus menulis surat kepada teman Jerman, bukan untuk berdamai, melainkan untuk menggugat. Surat-surat itu menjadi tonggak perlawanan moral melawan fasisme. Pada halaman 13, ia menulis: “Engkau berbicara tentang ‘Eropa’, tapi yang ada dalam pikiranmu adalah tentara, lumbung pangan, industri yang dipaksa bekerja melebihi kemampuan, serta cendekiawan yang dikekang.”
Ganti kata “Eropa” dengan Flores. Ganti “tentara dan tambang” dengan “panas bumi dan batalyon.” Strukturnya sama persis: ada pihak yang melihat Flores sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, dan ada masyarakat yang melihat Flores sebagai rumah—tempat identitas, adat, dan kehidupan mereka berakar.
Kebebasan Pers: Syarat Agar Keadilan Terbukti
Camus juga mengecam sensor dan penindasan terhadap jurnalis. Baginya, sensor adalah pengakuan bahwa penguasa takut pada kebenaran yang ditulis. “Kebebasan pers tidaklah menjamin suatu negeri mencapai keadilan dan kedamaian, tetapi tanpa kebebasan pers tidaklah menjamin suatu negara mencapai keduanya,” tulis Camus di halaman 24.
Di Flores, di mana proyek-proyek besar terus bergulir, kebebasan pers menjadi syarat agar masyarakat bisa mengetahui dan mempertanyakan apakah pembangunan benar-benar berpihak pada mereka. Tanpa itu, krisis baru—krisis kemanusiaan—hanya menunggu waktu.