NUSA TENGGARA TIMUR — Kerugian bersih pertama Honda dalam 70 tahun terakhir menjadi pukulan telak bagi pabrikan yang selama ini dikenal solid secara finansial. Dalam laporan keuangan yang dirilis pekan lalu, Honda mencatatkan rugi bersih yang dipicu oleh beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang membengkak. CEO Toshihiro Mibe pun angkat bicara di hadapan pemegang saham.
"Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas hasil ini. Kami tengah melakukan transformasi besar-besaran, dan biaya yang keluar memang sangat signifikan," ujar Mibe dalam konferensi pers, dikutip dari laporan resmi perusahaan.
Beban Restrukturisasi EV yang Membengkak
Penyebab utama kerugian ini bukan karena penjualan mobil atau motor yang ambruk. Honda justru masih mencatatkan pendapatan operasional yang positif dari bisnis inti roda empat dan roda dua. Namun, biaya restrukturisasi yang mencapai miliaran dolar untuk merombak pabrik, rantai pasok, dan pengembangan platform EV baru menggerus seluruh laba yang ada.
Langkah ini mencakup penutupan beberapa lini produksi komponen konvensional dan investasi besar-besaran pada pabrik baterai serta perangkat lunak kendaraan listrik. "Kami harus mengubah DNA perusahaan dari mesin pembakaran ke elektrifikasi, dan itu tidak murah," tambah Mibe.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Bagi konsumen di Indonesia, kerugian ini belum berdampak langsung pada harga jual motor atau mobil Honda saat ini. PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai ATPM lokal beroperasi secara independen dengan laporan keuangan terpisah. Namun, keputusan strategis global seperti penghentian pengembangan mesin pembakaran baru atau alokasi model EV ke pasar Asia Tenggara bisa terpengaruh dalam jangka panjang.
Honda saat ini tengah mempercepat peluncuran model listrik global, termasuk Honda e:N Series dan kendaraan listrik bermerek Acura di Amerika Serikat. Di Indonesia, Honda baru memperkenalkan Honda e:N1 sebagai model EV perdana, namun volumenya masih sangat terbatas.
Strategi Pemulihan dan Target ke Depan
Manajemen Honda menargetkan kerugian ini hanya bersifat sementara. Mulai tahun fiskal 2025, pabrikan Honda berharap investasi besar di EV mulai menghasilkan pengembalian, terutama dari kemitraan dengan GM dan Sony di bidang perangkat lunak dan baterai.
Honda juga tidak meninggalkan bisnis sepeda motor yang menjadi tulang punggung pendapatan di Asia. Segmen motor diperkirakan tetap menjadi penyumbang laba terbesar, terutama dari pasar India dan Indonesia. "Kami akan terus memproduksi motor dengan mesin konvensional selama permintaan masih tinggi," tegas Mibe.
Langkah Honda ini menjadi pengingat bahwa transisi ke kendaraan listrik bukanlah proses yang mulus, bahkan bagi pabrikan sekelas Honda yang selama puluhan tahun dikenal sebagai raja efisiensi. Para pemegang saham kini menunggu apakah strategi berani ini akan membuahkan hasil dalam 3-5 tahun ke depan.