Pencarian

Poco Likang Manggarai Dibanjiri Wisatawan, BBKSDA NTT Akui Belum Kantongi Kajian Dampak Lingkungan

Selasa, 30 Juni 2026 • 04:09:01 WIB
Poco Likang Manggarai Dibanjiri Wisatawan, BBKSDA NTT Akui Belum Kantongi Kajian Dampak Lingkungan
Poco Likang Manggarai ramai dikunjungi wisatawan meski belum ada kajian dampak lingkungan dari BBKSDA NTT.

RUTENG — Lonjakan pengunjung ke Poco Likang dalam dua bulan terakhir memicu kekhawatiran pegiat lingkungan. Yovie Jehabut, pegiat wisata yang fokus pada biodiversitas Flores, menyebut telaga di puncak kawasan itu sebagai “corong raksasa” dan “pintu reservoir ajaib” yang menjadi sumber utama mata air bagi wilayah Ruteng dan Satar Mese.

Ancaman Ekologis di Balik Keramaian

Yovie memperingatkan bahwa pijakan ribuan pengunjung dalam waktu singkat berpotensi memadatkan permukaan tanah di sekitar telaga. Proses penyerapan air hujan ke dalam tanah pun melambat. “Telaga di Poco Likang rasanya akan menjadi pintu terakhir bagi masuknya air hujan ke dalam perut Mandosawu,” tulisnya di Facebook, merujuk pada kawasan hutan yang masih mengalami penebangan.

Ia juga menyoroti risiko tanah longsor akibat peningkatan volume air yang tidak terserap optimal. “Peningkatan volume air akan berpengaruh pada struktur lereng di sekitarnya,” kata Yovie, yang mengelola situs Jagarimba.id.

887 Pengunjung dalam 20 Hari, Sampah Mulai Menumpuk

Data pemerintah mencatat 887 orang masuk ke kawasan Poco Likang antara 4 hingga 24 Juni 2025. Padahal, kawasan ini sebelumnya sepi pengunjung. Charianto Romas, seorang arsitek yang pertama kali mendaki pada Maret, melihat perubahan drastis saat kembali pada akhir Mei. “Sampah banyak sekali. Beberapa pengunjung juga melakukan pembakaran di tempat yang rawan terbakar,” katanya kepada Floresa.

Charianto juga mengkritik prosedur pengelolaan oleh BBKSDA yang dinilai belum ketat. “Kalau memang ada tiket masuk, pendataan pengunjung yang masuk juga jelas, apa yang dibawa pas melakukan pendakian,” ujarnya.

BBKSDA: Belum Ada Kajian, Tiket Tetap Ditarik

Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, mengakui bahwa Poco Likang belum masuk dalam blok pemanfaatan wisata di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng. Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK.208/KSDAE/SET/KSA.0/7/2016 hanya mengatur lima blok pemanfaatan, dan Poco Likang tidak termasuk di dalamnya.

Meski begitu, BBKSDA tetap menarik tarif masuk — Rp5.000 untuk berkemah dan Rp20.000 untuk pendakian — melalui Resor Golo Lusang. “Aktivitas wisata pada obyek Poco Likang saat ini belum sesuai dengan blok namun dalam proses untuk dilakukan pengubahan pasca dilakukannya evaluasi blok,” kata Adhi dalam respons tertulis, 26 Juni lalu.

Ia juga mengakui bahwa pihaknya belum melakukan kajian daya tampung, daya dukung lingkungan, maupun kajian dampak lainnya terhadap aktivitas wisata di lokasi tersebut.

Viralitas yang Memicu Pertanyaan Besar

Poco Likang mulai ramai setelah akun Facebook Rhizhal Goenawan mengunggah video es hasil sublimasi embun pada 1 Juni pagi, saat suhu mencapai 7-8 derajat Celsius. Video itu diunggah ulang oleh akun populer seperti @kupang.today, @nttfolks, dan @manggaraipunya. Setelahnya, beredar video jalur pendakian sempit yang penuh sesak, genangan air setinggi lutut, dan sampah berserakan.

Keis Barus, mahasiswi asal Manggarai, datang bersama 14 temannya pada 24 Mei. “Kami mendaki tetapi tidak kamping karena ada air di telaga. Setelahnya saya lihat di media sosial air telaga sudah surut sehingga banyak yang kamping,” katanya.

Nurfina Sri Mulyati, yang mendaki bersama ibunya pada 13 Juni, mengonfirmasi adanya bekas pembakaran di lokasi. “Ada ibu-ibu kamping dan masak juga di sana,” ujarnya.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: floresa.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks