SOE — Jonathan menyebut tahap penataan budaya Amanuban sedang berlangsung dan melibatkan dua komunitas adat tetangga di TTS. Ia menempatkan kolaborasi itu sebagai upaya membangun budaya TTS sesuai norma yang diwariskan leluhur.
Syukuran di Sonaf Amanuban menjadi pertemuan para amaf, tokoh agama, dan perwakilan klan dari sejumlah kabupaten di NTT. Kehadiran mereka, menurut Jonathan, menandai perhatian terhadap perkembangan budaya Amanuban.
Kolaborasi Amanuban, Mollo, dan Amanatun
Dalam sambutannya, Jonathan menegaskan posisi tiga komunitas adat dalam penataan budaya TTS. Ia menyebut kolaborasi dengan Mollo dan Amanatun sebagai bagian dari pembangunan budaya yang berpijak pada norma leluhur.
"Kita berada dalam tahap penataan budaya Amanuban. Kita berkolaborasi dengan Mollo dan Amanatun untuk membangun budaya TTS sesuai norma-norma yang diwariskan leluhur," ujar Jonathan.
Pernyataan itu menempatkan kebersamaan antarmasyarakat adat sebagai fondasi, bukan sekadar seremonial. Jonathan menilai kerja bersama lintas klan dan lintas wilayah dibutuhkan agar warisan budaya tetap hidup di tengah masyarakat TTS.
Tokoh Sumba hingga Belu di Sonaf Amanuban
Syukuran tersebut dihadiri tokoh dari Sumba, Flores, Sabu Raijua, Rote Ndao, Timor, dan Belu. Menurut Jonathan, kehadiran mereka menunjukkan perhatian terhadap perkembangan budaya Amanuban.
Ia juga memaknai kehadiran lintas daerah itu sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan antarsuku di NTT. Hubungan yang erat dinilainya penting untuk mendukung pembangunan masyarakat TTS.
Pertemuan di Sonaf Amanuban mempertemukan tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan klan dalam satu forum. Forum semacam ini menjadi ruang konsolidasi bagi masyarakat adat di Timor Tengah Selatan.
Budaya sebagai Penopang Pembangunan TTS
Jonathan menempatkan pelestarian budaya bukan sebagai urusan terpisah dari pembangunan. Menurutnya, kebersamaan antarmasyarakat adat berperan menjaga warisan budaya sekaligus mendukung kemajuan masyarakat TTS.
Penataan budaya Amanuban yang melibatkan Mollo dan Amanatun menjadi langkah awal yang ia sebut sedang berjalan. Prosesnya melibatkan para amaf dan masyarakat adat di wilayah tersebut.
Dengan melibatkan tokoh dari berbagai daerah di NTT, syukuran di Sonaf Amanuban memperlihatkan jaringan antarsuku yang menopang kehidupan budaya di Timor Tengah Selatan.