NUSA TENGGARA TIMUR — Strategi agresif ini diumumkan Lucid melalui kampanye email dan tercantum di situs resmi mereka, seperti dilaporkan oleh Car and Driver. Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa permintaan terhadap SUV listrik perdana Lucid tersebut belum sesuai ekspektasi. Alih-alih menurunkan harga jual, pabrikan asal California ini memilih mengombinasikan insentif kredit langsung dengan skema cicilan tanpa bunga jangka panjang.
Dua Varian Termasuk Promo, Satu Dikecualikan
Penawaran ini mencakup dua trim terbawah dari jajaran Gravity 2026, yaitu varian Touring dan Grand Touring. Namun, trim tertinggi Gravity Dream Edition tidak termasuk dalam program diskon dan bunga nol persen tersebut. Selain insentif utama, Lucid juga memberikan tambahan USD 3.000 (Rp 48 juta) sebagai loyalty credit bagi pemilik Lucid yang sudah ada, plus potongan hingga USD 3.000 (Rp 48 juta) untuk program tukar tambah (trade-in) bagi pelanggan baru.
Stok Model 2026 Masih Deras meski 2027 Sudah Hadir
Peluncuran Lucid Gravity 2027 yang terjadi lebih dari tiga bulan lalu ternyata belum mampu menguras habis stok model 2026. Dengan kata lain, Lucid masih memiliki inventaris yang cukup besar dari tahun produksi pertama Gravity yang harus segera dipindahkan. Penumpukan ini kemungkinan besar menjadi alasan utama pemberian insentif sebesar ini, mengingat model 2027 sudah hadir dengan beberapa pembaruan yang membuat model 2026 kurang diminati di showroom.
Persiapan Menyambut SUV Murah Cosmos
Insentif besar-besaran untuk Gravity ini juga terjadi di tengah persiapan Lucid untuk meluncurkan model terbaru mereka, yakni SUV Cosmos. Model yang diklaim akan diumumkan pada musim panas 2026 ini dan mulai dijual sebelum akhir tahun memiliki banderol yang jauh lebih rendah. Lucid menargetkan harga Cosmos di bawah USD 50.000 (sekitar Rp 800 juta), sebuah angka yang dianggap lebih ramah kantong dan mampu menjangkau pasar massal dibandingkan lini Air dan Gravity yang saat ini cenderung premium.
Bagi konsumen Indonesia, strategi diskon besar seperti ini memang belum lazim diterapkan langsung oleh ATPM. Namun, pola ini bisa menjadi gambaran bagaimana tekanan pasar EV global memaksa pabrikan untuk bergerak cepat. Jika permintaan terhadap SUV listrik kelas atas terus lesu, bukan tidak mungkin strategi serupa akan diadopsi di pasar Asia, termasuk Indonesia, dalam beberapa tahun ke depan.