RUTENG — Festival Golo Curu 2026 resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, menegaskan posisinya sebagai event nasional berbasis religi dan budaya. Festival ini digagas Keuskupan Ruteng sebagai bentuk pastoral yang menyentuh kehidupan masyarakat secara utuh, tidak hanya spiritual tetapi juga sosial dan ekonomi.
Ziarah Patung Maria Jadi Pembuka Rangkaian
Ketua Panitia Festival Golo Curu 2026, Theodosius Yosefus Nono, menjelaskan bahwa rangkaian festival akan dimulai dengan ziarah Patung Maria Ratu Rosari ke paroki-paroki di Wilayah Selatan Kevikepan Ruteng pada 16–30 September 2026. "Ziarah tersebut menjadi simbol perjalanan pengharapan sekaligus ajakan membangun persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat," kata Yosefus.
Puncak acara berlangsung pada 2–7 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan mencakup misa, doa bersama, ziarah, pertunjukan budaya, promosi UMKM, ekonomi kreatif, hingga edukasi lingkungan.
Kolaborasi Gereja, Pemerintah, dan Komunitas Lokal
Pesan pastoral Uskup Ruteng yang dibacakan Vikaris Episkopal Ruteng, RD Dionisius Osharjo, menekankan bahwa festival ini membawa dampak luas. Selain memperkuat kehidupan rohani umat, kegiatan ini juga menggerakkan sektor sosial, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif di Manggarai.
Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menilai Festival Golo Curu menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat tumbuh dari akar budaya dan iman masyarakat. "Kolaborasi antara Gereja, pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menghadirkan pariwisata yang berkelanjutan, berkualitas, dan memberikan manfaat ekonomi secara langsung," ujar Andhy.
Melengkapi Wajah Pariwisata Religi NTT
Festival Golo Curu menjadi satu dari tiga festival religi unggulan di Nusa Tenggara Timur. Dua lainnya adalah Festival Lamaholot di Lembata dan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Manggarai Barat. Ketiganya memperkuat citra Flores sebagai destinasi wisata religi Katolik di Indonesia.
Menurut Andhy, festival ini menghadirkan pengalaman yang memadukan spiritualitas, budaya, dan keindahan alam dalam satu perjalanan utuh. Hal ini sejalan dengan upaya BPOLBF mengembangkan pariwisata berbasis komunitas di kawasan Flores dan Labuan Bajo.