NUSA TENGGARA TIMUR — Purbaya tidak hanya menargetkan pertumbuhan di level 6 persen. Dalam kesempatan tersebut, ia bahkan menyebut angka 6,5 persen "relatif mudah" dicapai jika dua mesin utama ekonomi, yakni sektor pemerintah dan swasta, beroperasi secara optimal. "Pertumbuhan 6 persen tidak terlalu sulit dicapai jika sektor swasta dikombinasikan dengan sektor pemerintah. Angka di atas itu juga tidak terlalu sulit," ujarnya.
Strategi Fiskal Agresif dan Realisasi Kuartal I-II
Untuk mencapai target tersebut, Purbaya mengaku akan memanfaatkan semua instrumen yang tersedia di pasar. Ia menegaskan tidak ada ruang untuk kebijakan fiskal yang setengah-setengah mengingat perekonomian domestik masih memiliki ruang untuk berakselerasi mendekati potensi maksimalnya.
"Saya akan memastikan pada paruh kedua tahun ini ekonomi kita bisa tumbuh sekitar 6 persen. Saya akan mengerahkan semua instrumen yang ada di pasar, seluruh kebijakan yang memungkinkan dari sisi fiskal," kata Purbaya. Keyakinan ini juga ditopang data pertumbuhan ekonomi yang sudah berada di atas 5,4 persen sepanjang dua kuartal pertama tahun ini.
Sinergi KSSK di Tengah Tekanan Geopolitik
Optimisme Menkeu tidak lepas dari hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dirilis sehari sebelumnya, Senin (3/8). Dalam konferensi pers di kantor LPS, Purbaya menyebut kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan pada kuartal II 2026 tetap terjaga meskipun tekanan eksternal kembali meningkat.
Eskalasi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan volatilitas pasar keuangan global menjadi pemicu utama gejolak tersebut. Tekanan ini turut berdampak pada nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Meski demikian, KSSK menilai fundamental ekonomi domestik masih solid dan mampu meredam gejolak eksternal tersebut.
Proyeksi Akhir Tahun dan Fokus Investor
Purbaya sebelumnya telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 akan berada di kisaran 5,6 persen hingga 6 persen secara year on year. Proyeksi ini ditopang oleh sinergi kebijakan yang erat antarotoritas, termasuk koordinasi fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia serta lembaga anggota KSSK lainnya.
Bagi pelaku pasar, pernyataan ini memberikan sinyal bahwa pemerintah akan cenderung ekspansif dalam belanja negara pada semester kedua. Sektor-sektor yang biasanya diuntungkan dari belanja pemerintah, seperti konstruksi dan infrastruktur, berpotensi mendapat sentimen positif. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko global yang masih membayangi perekonomian domestik.
KSSK berkomitmen untuk terus melakukan asesmen forward looking terhadap kinerja perekonomian dan sektor keuangan. "KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi," pungkas Purbaya.