KUPANG — Perjalanan panjang Musa Jaladapakuri di dunia pendidikan resmi berakhir. Guru yang telah menjadi bagian dari sejarah berdirinya SMP Negeri 7 Kupang sejak 1992 itu kini melepas statusnya sebagai abdi negara. Upacara purna karya yang digelar di sekolah, Sabtu (8/8/2026), menjadi momen haru sekaligus apresiasi atas dedikasinya selama lebih dari tiga dekade.
Kepala SMPN 7 Kupang, Yani Alfred Asriona Boymau, S.Pd., menyebut momen ini bukan sekadar seremoni pelepasan biasa. Ia menegaskan bahwa upacara tersebut adalah bentuk penghargaan moril atas pengabdian Musa sejak meniti karier hingga menyelesaikan masa tugasnya.
"Atas nama negara, saya menyampaikan terima kasih atas kinerja dan dedikasi selama menjalankan tugas sebagai guru," ujar Yani dalam sambutannya.
Pensiun Bukan Akhir, Musa Siap Rintis Usaha Kecil
Di tengah suasana perpisahan, Musa justru memancarkan optimisme. Ia tidak memandang masa purna tugas sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, guru yang lahir di Sumba Barat, 25 Juli 1966 itu, telah menyiapkan rencana untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan produktif.
"Setelah purna tugas, saya ingin tetap melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya akan mencoba usaha kecil-kecilan. Bagi saya, pensiun bukan berarti berhenti berkarya," kata Musa.
Lebih dari sekadar rencana usaha, Musa membagikan prinsip hidup yang ia pegang teguh selama mengabdi. Ia mengingatkan seluruh warga sekolah untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan Tuhan sebelum semuanya berlalu.
"Kesempatan yang Tuhan berikan jangan disia-siakan. Selama masih diberikan kesehatan dan waktu, kita harus melakukan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain," pesannya.
Makna Kebersamaan dan Pesan untuk Generasi Penerus
Bagi Yani, acara ini memiliki makna personal yang mendalam. Berasal dari keluarga guru, ia memahami betul bahwa profesi ini adalah sebuah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan. Hal inilah yang mendorongnya untuk memastikan setiap guru yang purna tugas mendapatkan penghargaan yang layak.
"Karena itu, saya merindukan kesempatan untuk memberikan penghargaan moril kepada guru, salah satunya melalui kegiatan seperti ini ketika memasuki masa purna karya," ungkap Yani.
Suasana kekeluargaan pun terasa kental sepanjang acara. Yani menambahkan, seluruh guru, pegawai, dan siswa diberikan ruang untuk menyampaikan kesan, pesan, serta permohonan maaf. Hal ini dinilai penting untuk menjaga tali silaturahmi yang telah terbangun bertahun-tahun.
"Semua warga sekolah memiliki kesempatan untuk menyampaikan isi hati, termasuk perwakilan guru dan siswa. Kita tetap menjaga hubungan kekeluargaan sampai kapan pun," katanya.
Di akhir acara, Musa menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan selama bekerja sama. Baginya, 34 tahun lebih mengabdi bukan hanya tentang tugas mengajar, tetapi juga tentang membangun hubungan dan kenangan yang tak akan terlupakan.
"Selama 34 tahun empat bulan saya mengabdi, tentu banyak suka dan duka yang saya alami. Saya bersyukur Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk menjalankan tugas sampai selesai," tutupnya.