NUSA TENGGARA TIMUR — Kolaborasi yang berjalan sejak 2024 ini tidak hanya menyentuh sektor keagamaan. Tiga pilar utama yang diusung—Al-Qur'an, literasi digital, dan kecakapan bertani—menjadi fondasi bagi para santri untuk belajar kemandirian ekonomi dan kepedulian lingkungan.
Dari Kantin ke Lahan: Siklus Energi dan Pangan Mandiri
Di bawah program Eco-Agro Santri, pesantren mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk menopang aktivitas ibadah dan irigasi pertanian. Limbah organik dari dapur tidak lagi terbuang percuma; diolah menjadi biogas yang digunakan untuk memasak di kantin.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Jaenal Apip, mengatakan dukungan Pertamina Patra Niaga memungkinkan pihaknya mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan. "Program ini tidak hanya membekali santri dengan pendidikan agama, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, pertanian, dan kemandirian," ujarnya saat menerima kunjungan Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa, Jumat (7/8/2026).
Bank Jerami: Solusi Limbah Panen yang Menguntungkan
Inovasi lain yang berjalan adalah Bank Jerami. Petani tidak lagi membakar jerami setelah panen—praktik yang selama ini menyumbang polusi udara. Melalui skema tukar, jerami yang terkumpul bisa ditukar dengan pupuk, air hasil pengolahan reverse osmosis, atau bantuan biaya pemasangan sambungan baru Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Setiap musim panen, rata-rata 2 hingga 3 ton jerami berhasil dikelola lewat mekanisme ini. Angka tersebut menunjukkan potensi besar jika model serupa direplikasi di daerah agraris lain.
Menuju Ketahanan Pangan dan Transisi Energi
Inisiatif ini menempatkan pesantren sebagai aktor penguatan ketahanan pangan sekaligus transisi energi dari tingkat akar rumput. Sayuran yang dihasilkan memenuhi kebutuhan konsumsi santri secara langsung, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar.
Program Prakarsa Bagja Juara menjadi contoh bagaimana sinergi BUMN dengan institusi pendidikan keagamaan dapat menciptakan dampak terukur. Model ekonomi sirkular yang dijalankan—dari sampah menjadi biogas, dari jerami menjadi pupuk—menawarkan cetak biru pemberdayaan masyarakat yang bisa diadaptasi di wilayah lain.