Bupati Manggarai Akui Kewalahan Tangani Trauma 1.054 Pengungsi Rentan Pascagempa

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 11:16:02 WIB
Bupati Manggarai Herybertus Nabit mengakui keterbatasan tenaga terlatih dalam penanganan trauma pengungsi pascagempa.

RUTENG — Herybertus Nabit menyampaikan pengakuan itu saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, Minggu malam. Menurut dia, penanganan trauma korban gempa belum bisa dijalankan optimal karena keterbatasan tenaga terlatih di daerah.

"Penanganan trauma kami harus akui tidak punya kemampuan sumber daya di situ," kata Herybertus.

Pemkab Manggarai pun membuka pintu bagi bantuan pihak lain untuk menangani psikososial para pengungsi. Sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat sudah masuk membantu, meski cakupannya belum merata.

Layanan Trauma Baru Menjangkau Anak Sekolah

Pendampingan psikososial saat ini masih terpusat pada anak-anak sekolah. Padahal warga dewasa juga tergolong rentan secara psikologis karena gempa menghancurkan sumber penghidupan mereka.

Kelompok lanjut usia dinilai paling berisiko. Warga lansia tidak lagi produktif bekerja sehingga lebih mudah terpuruk menghadapi ketidakpastian masa depan.

"Situasi yang lebih rentan lagi dialami oleh kalangan lanjut usia karena mereka sudah tidak bisa lagi produktif dalam bekerja," kata Herybertus.

Bupati mengaku khawatir muncul kasus bunuh diri akibat keputusasaan di kalangan lansia. Dia menilai persoalan itu butuh penanganan khusus oleh tenaga profesional.

1.054 Jiwa Masuk Kelompok Rentan

Data Pemkab Manggarai hingga lebih dari dua bulan pascagempa mencatat 1.301 warga masih bertahan di 17 posko pengungsian. Sebanyak 7.091 warga lain memilih mendirikan tenda sendiri di dekat rumah mereka.

Dari total pengungsi itu, 1.054 jiwa masuk kategori kelompok rentan. Rinciannya 335 anak-anak, 265 warga lansia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas.

"Di antaranya 335 anak-anak, 265 warga lansia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas," kata Bupati Herybertus Nabit.

Plan Indonesia Latih Relawan Lokal Secara Bertahap

Lembaga swadaya masyarakat Plan Indonesia mengambil peran dalam menutup kekurangan tenaga pemulihan psikososial. Organisasi yang bergerak di bidang hak anak ini melatih relawan-relawan lokal di Manggarai.

"Tahap pertama kami sudah melatih 20 trainer yang sudah bergerak membantu di 62 titik," kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti.

Pelatihan sudah berjalan tiga tahap. Tahap kedua melatih 32 orang relawan, sementara tahap ketiga 42 orang.

"Mereka yang kami latih telah bergerak ke berbagai penjuru Manggarai untuk menangani pemulihan psikosial warga terdampak gempa, khususnya anak-anak," kata Dini.

Kemendikdasmen Kirim 70 Master Trainer untuk Latih Guru

Bantuan tenaga juga datang dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Manggarai Wensiaus Sedan menyebut kementerian akan mengirim 70 orang master trainer ke daerah.

"Mereka akan melatih guru-guru agar bisa melakukan pemulihan psikosial para siswa yang terdampak gempa," kata Wensiaus.

Guru yang sudah dilatih nantinya menularkan keterampilan itu ke rekan-rekan di sekolah masing-masing. Pola berjenjang ini diharapkan memperluas jangkauan pendampingan psikososial bagi siswa terdampak gempa.

Herybertus berharap pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM bersinergi menangani psikososial seluruh kalangan warga, dari anak-anak hingga lansia.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top