Harga Elpiji 12 Kg di Manggarai Tembus Rp500 Ribu, 10 Dapur MBG Tutup dan Pedagang Kecil Kelimpungan

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 12:11:41 WIB
Harga elpiji 12 kg di Manggarai melonjak hingga Rp500 ribu per tabung dalam sepekan terakhir.

RUTENG — Lonjakan harga elpiji 12 kilogram di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mencapai Rp450.000 hingga Rp500.000 per tabung dalam sepekan terakhir. Harga normalnya berkisar Rp250.000 hingga Rp280.000. Kondisi ini memicu krisis pasokan yang melumpuhkan aktivitas dapur umum dan usaha mikro di wilayah tersebut.

10 Dapur MBG Tutup, Ratusan Porsi Makanan Tertunda

Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wilayah Manggarai, Ansgariana Yetri Indriyanti, menyatakan sepuluh dapur MBG di Kecamatan Langke Rembong, Wae Ri’i, dan Reok berhenti beroperasi pada 8-12 Mei lalu. Dapur-dapur itu antara lain di Waso, Pau 2 (Polres), Carep, Pau, Pitak, Wae Ri’i, hingga Reok Ruis.

"Kebutuhan gas untuk satu dapur mencapai enam hingga sepuluh tabung per hari. Ada yang menjual Rp500.000, tapi kami tidak ambil karena terlalu mahal," ujar Yetri kepada Floresa, Selasa (14/5).

Penutupan ini memaksa petugas dapur libur dan hanya menerima honor saat distribusi berjalan. Rapat darurat dengan Kasatgas tengah digelar untuk mencari solusi pasokan.

Pedagang Kecil: Omzet Turun, Warung Sempat Tutup Tiga Hari

Diki Ngo, pemuda asal Desa Nanga Meje yang berjualan nasi goreng di sisi barat Nirwana Pasar Raya, Ruteng, merasakan dampak langsung. Warungnya yang biasanya buka pukul 16.00-23.00 Wita, sempat tutup tiga hari pada April lalu karena kehabisan stok elpiji.

"Kadang bos harus ambil gas sampai ke Reo (pelabuhan di utara Manggarai). Pendapatan bisa turun dari Rp500 ribu jadi Rp370 ribu sehari," kata Diki.

Dengan gaji Rp1,2 juta per bulan dan biaya kos Rp500 ribu, Diki mengaku kelangkaan ini mengancam penghasilan hariannya. Ia bergantung pada gerobak milik pengusaha asal Jawa yang berdomisili di Ruteng.

Pertamina: Gangguan Distribusi dari Surabaya

Manajer Komunikasi, Relasi dan CSR PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Ahad Rahedi, membenarkan adanya kelangkaan. Ia menyebut penyebabnya adalah hambatan distribusi kapal dari Surabaya imbas cuaca dan kendala teknis.

"Pasokan elpiji yang menopang NTT saat ini masih didukung suplai dari Surabaya. Imbas dari jarak suplai ini salah satunya terkendala mobilisasi kapal," katanya, Selasa (14/5).

Ia menambahkan, penertiban angkutan ekspedisi oleh Polda Jawa Timur turut menahan pemuatan kontainer elpiji di Pelabuhan Surabaya selama empat hingga lima hari. Sebagai langkah mitigasi, Pertamina menjadwalkan pengiriman sekitar 14 ribu tabung elpiji ukuran 5,5 kg, 12 kg, dan 50 kg ke NTT pada 12-19 Mei 2026.

Imbauan Beli di Agen Resmi, tapi Stok di Pengecer Tak Terkendali

Ahad mengimbau masyarakat membeli elpiji di agen resmi Pertamina agar mendapat harga wajar. Ia juga menyebut harga rekomendasi bisa diakses di laman resmi Pertamina atau melalui kontak 135.

Namun, bagi pedagang seperti Diki, imbauan itu belum menjawab masalah. "Saya tidak tahu harus bagaimana kalau gas terus langka. Ini bukan cuma soal dagangan, tapi soal hidup saya," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, distribusi elpiji di Manggarai belum sepenuhnya pulih. Warga diimbau melapor jika menemukan pengecer yang menjual di atas harga wajar.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: floresa.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top