NUSA TENGGARA TIMUR — Prediksi kenaikan harga ini bukan tanpa alasan. Produsen raksasa seperti Samsung, SK hynix, dan Micron kini berlomba memenuhi permintaan chip HBM yang nilainya jauh lebih tinggi untuk pusat data AI. Alhasil, lini produksi untuk memori generasi lama seperti DDR4 mulai ditinggalkan.
Masalah utama bukan berasal dari lonjakan permintaan DDR4, melainkan menyusutnya pasokan baru di pasar. Ketika pabrikan memilih memproduksi HBM yang lebih menguntungkan, ketersediaan DDR4 di pasaran otomatis berkurang drastis.
Morgan Stanley mencatat, pembeli dari sektor AI dan cloud punya posisi tawar lebih kuat karena bisa mengamankan pasokan lewat kontrak jangka panjang. Sementara itu, pembeli tradisional di lini konsumen harus berebut kapasitas produksi yang tersisa.
DDR4 bukan satu-satunya yang terdampak. Laporan dari lembaga keuangan global itu juga menyebut harga SLC NAND berpotensi meningkat lebih dari 50 persen pada kuartal ketiga dan keempat. Kenaikan ini menunjukkan pergeseran besar sedang terjadi di industri memori tradisional.
Produsen kini lebih memprioritaskan chip dengan nilai ekonomi tinggi ketimbang memori konvensional. Pembangunan kapasitas produksi baru pun membutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga kelangkaan pasokan diprediksi berlanjut dalam jangka menengah.
Bagi gamer dan pengguna PC, skenario ini mengubah strategi membangun atau merakit komputer. DDR4 selama ini menjadi pilihan ekonomis karena teknologinya lebih tua dan harganya relatif murah. Status itu tidak lagi menjamin harga tetap terjangkau ke depan.
Mereka yang berencana merakit PC gaming berbasis DDR4 dalam waktu dekat perlu mempertimbangkan ulang waktu pembelian. Menunda upgrade justru berisiko membayar lebih mahal saat harga mencapai puncaknya di kuartal ketiga 2026.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana ledakan kecerdasan buatan mengubah struktur industri memori di tingkat konsumen. Insentif finansial dari bisnis HBM jauh lebih besar dibandingkan memori tradisional, membuat pabrikan global rela mengurangi produksi DDR4.
Pasar Indonesia yang masih banyak menggunakan perangkat berbasis DDR4 akan merasakan dampaknya, baik untuk kebutuhan personal maupun operasional bisnis. Perusahaan yang bergantung pada perangkat keras generasi lama perlu menyiapkan anggaran tambahan untuk pengadaan di masa mendatang.