MANGGARAI — Duka warga Desa Waso berlapis. Di tengah keterbatasan ekonomi sebagai petani dan nelayan, gempa bumi yang melanda NTT tidak hanya meratakan Masjid Baburrahman, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Sebanyak 6 anggota keluarga meninggal dunia, puluhan warga mengalami luka berat dan ringan, serta 10 ibu hamil, 25 bayi, dan 29 lansia kini harus bertahan di tempat pengungsian seadanya.
Bagi 830 jiwa, masjid ini bukan sekadar bangunan beton. Fungsinya adalah jantung kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Waso. Aktivitas yang hilang bersamaan dengan robohnya bangunan itu sangat vital bagi warga.
Masjid Baburrahman selama ini menjadi ruang belajar bagi lebih dari 300 anak usia sekolah. Mereka biasa mengaji, membaca Al-Qur'an (TPA/TPQ), dan menimba ilmu karakter di bawah atapnya. Kini, lantunan ayat suci yang biasa bergema telah berubah menjadi sunyi di antara puing dan reruntuhan.
Selain untuk sholat berjamaah dan perayaan hari besar Islam, masjid ini juga merupakan pusat kemanusiaan. Di sinilah warga saling peduli dan merawat kerukunan antarumat beragama di NTT yang dikenal toleran.
Rumah Zakat membuka penggalangan dana untuk membangun kembali Masjid Baburrahman. Dana yang terkumpul dari para donatur akan dialokasikan untuk empat pos utama, yaitu:
Warga yang ingin membantu dapat menyalurkan donasinya melalui campaign "Bangun Kembali Masjid Baburrahman NTT". Langkahnya mudah: klik tombol "TUNAIKAN SEKARANG", masukkan nominal donasi, pilih metode pembayaran, dan lakukan transfer sesuai nominal.
Setiap rupiah yang disisihkan adalah bata pertama bagi berdirinya kembali masjid tersebut. Bantuan ini diharapkan menjadi pahala jariyah yang aliran keberkahannya tidak akan pernah terputus bagi para donatur.