Kampung Adat Prai Ijing Sumba Barat Catat Pendapatan Naik 26 Persen Usai Pendampingan Bakti BCA

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Senin, 14 September 2026 | 08:46:02 WIB
Warga Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

SUMBA BARAT — Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mencatat pertumbuhan pendapatan 26 persen pada akhir 2025. Capaian itu muncul setelah kampung tersebut mendapat pendampingan Bakti BCA sejak 2024.

Pendampingan menyasar penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan desa. Warga didorong mengelola potensi wisata secara mandiri, bukan sekadar menjadi penonton di kampung sendiri.

Rumah Adat Umma Kalada dan Jejak Megalitik yang Masih Hidup

Prai Ijing berdiri di tengah hamparan perbukitan Sumba Barat. Kampung ini merawat jejak sejarah megalitik yang masih terlihat hingga sekarang.

Arsitektur rumah adat beratap menjulang atau Umma Kalada menjadi penanda utama. Kearifan lokal warga tetap terjaga kuat di tengah arus perubahan.

Sebagai salah satu Desa Bakti BCA, Prai Ijing mempertegas posisinya sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dipilih agar dampak ekonominya langsung terasa di tingkat warga.

Dua Paket Wisata Unggulan dari Pokdarwis Prai Ijing

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing menyusun dua paket wisata unggulan yang terencana dan nyaman. Paket itu dirancang agar wisatawan tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan budaya dinamis warga.

Salah satu aktivitas yang ditawarkan adalah permainan tradisional Kagorokana Alu. Permainan ketangkasan menggunakan bambu ini melambangkan kebersamaan warga.

Pengunjung juga dapat menyaksikan ketelitian para perajin wanita saat menenun kain khas Sumba. Lewat workshop singkat, wisatawan diajarkan proses menata benang hingga menjadi kain indah yang sarat nilai filosofis.

Ekosistem UMKM Desa Ikut Bergerak

Aktivitas wisata itu secara langsung menggerakkan ekosistem UMKM desa. Mulai dari penyedia kuliner hingga perajin cenderamata merasakan dampaknya.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai aktor utama.

"Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Melalui pendampingan, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya," ujar Hera.

Bagi warga Sumba Barat, Prai Ijing menjadi contoh bagaimana tradisi megalitik bisa berdampingan dengan kegiatan ekonomi warga. Pendapatan kampung naik, tradisi tetap dijaga.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: mediaindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top