NUSA TENGGARA TIMUR — Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyebut konsensus pasar memproyeksikan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin akibat kenaikan inflasi. BoJ diperkirakan mengikuti dengan kenaikan 25 basis poin menjadi 1,25%.
Kombinasi dua kebijakan ini menjadi katalis utama yang dicermati pelaku pasar sepanjang pekan. Arah komunikasi kedua bank sentral akan menentukan seberapa dalam tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.
Imam menilai kenaikan suku bunga The Fed dan BoJ berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko. Tekanan itu akan semakin besar jika komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi pasar.
"Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama apabila komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi," ujar Imam dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Imam di Jakarta, Senin (14/9/2026), saat memaparkan outlook pasar untuk pekan berjalan. Pasar obligasi dan ekuitas global akan bergerak mengikuti sinyal suku bunga dari kedua bank sentral tersebut.
Secara teknikal, Imam menerangkan IHSG mengalami pelemahan jangka pendek setelah ditutup di bawah MA20 di sekitar 6.623. Kondisi itu belum mengonfirmasi pembalikan arah menjadi bearish.
Pada pekan 7-11 September 2026, IHSG ditutup di level 6.541,37 atau terkoreksi -1,43% secara mingguan. Koreksi itu akibat kombinasi aksi ambil untung (profit taking) dan meningkatnya ketidakpastian global.
Posisi di bawah MA20 menjadi perhatian pelaku pasar teknikal. Selama level tersebut tidak ditembus kembali, tekanan jual jangka pendek masih membayangi indeks.
Investor akan mencermati pernyataan pejabat The Fed dan BoJ setelah keputusan suku bunga. Nada komunikasi kedua bank sentral menjadi penentu arah arus dana ke pasar emerging, termasuk Indonesia.
Imam menyebut kenaikan suku bunga acuan AS dan Jepang masing-masing 25 basis poin sebagai skenario dasar pekan ini. Jika terealisasi sesuai ekspektasi, pasar masih punya ruang mencerna.
Risiko muncul bila komunikasi keduanya lebih hawkish dari konsensus. Pada kondisi itu, aset berisiko di pasar domestik berpotensi menghadapi tekanan jual tambahan.
Investasi mengandung risiko.