BELU — Dua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan pengawasan langsung dari anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Esthon Foenay. SPPG Mandeu Raianuk di Kabupaten Belu dan SPPG Webriamata di Kabupaten Malaka menjadi lokasi peninjauan, Selasa lalu.
Mantan Wagub NTT Pantau Langsung Sistem Pelayanan Dapur
Esthon menegaskan kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ia ingin memastikan seluruh sistem pelayanan dapur berjalan sesuai standar nasional, sekaligus melihat kesiapan pelaksana di lapangan. “Kedatangan saya semata untuk melihat secara langsung pelayanan di SPPG ini, karena seluruh pelaksana di lapangan harus mengetahui dan memahami sistem serta semangat yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo,” ujarnya.
Menurut Esthon, program MBG merupakan langkah strategis pemerintah membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Pemenuhan gizi yang merata, termasuk di wilayah perbatasan, menjadi prioritas. “Program Makanan Bergizi Gratis ini merupakan salah satu program unggulan pemerintah saat ini untuk memastikan generasi muda bangsa terpenuhi kebutuhan gizinya,” katanya.
Dampak Ekonomi Lokal Jadi Target Sampingan
Selain soal gizi, Esthon mendorong agar operasional dapur MBG mampu menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. Ia meminta kebutuhan dapur dipasok dari sumber daya daerah, dan tenaga kerja lokal diprioritaskan. “Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga harus mampu menghadirkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Esthon didampingi Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Malaka, Benny Chandradinata, serta tenaga ahli Agung Hardiyanto dan Marco Foenay. Rombongan juga memantau perkembangan Program Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Malaka.
13 Dapur MBG di Malaka, 122 Desa Sudah Punya Koperasi
Benny Chandradinata mengungkapkan, saat ini sudah terbangun 13 dapur MBG di Kabupaten Malaka. Sebanyak 12 dapur lainnya masih dalam tahap pembangunan. Sementara itu, Program Koperasi Desa Merah Putih telah terealisasi di 122 desa dari total 127 desa di wilayah tersebut.
Sinergi antara program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat hingga ke wilayah perbatasan Indonesia.