KUPANG — Kepala Kanwil DJPb Provinsi NTT Adi Setiawan mengungkapkan, angka tersebut naik Rp350,41 miliar dari realisasi tahun lalu. Peningkatan ini menunjukkan geliat pembiayaan bagi pelaku usaha kecil di daerah.
Sektor Perdagangan Mendominasi, Pertanian Jadi Tantangan
Dari total penyaluran, sektor perdagangan besar dan eceran masih mendominasi dengan nilai Rp816,35 miliar atau 47,62 persen. Sektor ini menjadi motor utama penyerapan KUR di NTT.
Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menempati posisi kedua dengan nilai Rp354,92 miliar atau 20,70 persen. Meski menjadi tulang punggung perekonomian NTT, Adi mengakui sektor ini menghadapi tantangan musiman.
"Sektor yang kita dorong adalah pertanian. Walaupun pertanian dominan dalam struktur ekonomi, memang ada faktor musiman, pertanian lahan kering, curah hujan, semuanya menjadi tantangan bagi aktivitas ekonomi," kata Adi di Kupang, Jumat.
Kota Kupang dan Sabu Raijua: Dua Kutub Penyaluran
Penyaluran KUR tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar Rp207,95 miliar kepada 2.363 debitur. Sebaliknya, Kabupaten Sabu Raijua mencatat realisasi terendah dengan hanya Rp2,25 miliar untuk 48 debitur.
Ketimpangan ini menunjukkan masih perlunya perluasan akses pembiayaan ke daerah-daerah terpencil di NTT. Pemerintah daerah dan perbankan diharapkan bisa memperkuat sinergi untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha di pelosok.
BRI Kuasai Penyaluran, Skema Mikro Paling Diminati
Bank BRI menjadi penyalur KUR terbesar dengan realisasi Rp1,416 triliun kepada 31.069 debitur. "BRI menjadi penyalur terbesar. Ini menarik karena tidak semua bank memiliki jangkauan hingga ke wilayah-wilayah yang cukup jauh," ujar Adi.
Skema KUR mikro mendominasi dengan nilai Rp1,245 triliun kepada 31.671 debitur. Sementara itu, penyaluran KUR Kredit Perumahan (KUR-KPP) mencapai Rp172,05 miliar, terdiri dari demand rumah sebesar Rp75,82 miliar kepada 396 debitur dan supply rumah sebesar Rp96,23 miliar kepada 52 debitur.
Target Semester II: Optimalkan Sektor Potensial
Adi menegaskan pihaknya akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan penyalur pada semester II 2026. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan penyaluran KUR, terutama pada sektor-sektor potensial yang belum tergarap maksimal di NTT.
"Tantangan ke depan adalah bagaimana mencocokkan potensi ekonomi dengan potensi pembiayaan," pungkasnya.