ROTE NDAO — Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyoroti kesenjangan antara potensi besar rumput laut Rote Ndao dengan realitas di lapangan saat berdialog dengan sekitar 300 petani di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko. Ia menilai alat produksi yang digunakan petani masih sangat tradisional sehingga menghambat produktivitas.
"Saya lihat tadi memang alat-alat yang digunakan masih sangat tradisional sekali. Jadi ini mungkin ke depan butuh alat-alat pengering, gudang, dan mungkin perlu dibutuhkan juga pabrik packaging di sini," kata Gibran.
Kebutuhan Petani: Dari Tali Nilon hingga Mesin Ketinting
Dalam dialog tersebut, para petani menyampaikan sejumlah kebutuhan utama untuk meningkatkan hasil budidaya mereka. Permintaan yang diajukan meliputi tali nilon ukuran 8 mm dan 2 mm, bibit rumput laut unggul, sampan fiber, serta mesin ketinting 0,5 GT.
Kelompok ibu-ibu petani rumput laut juga menyampaikan harapan serupa, yakni bantuan modal usaha berupa tali, bibit, dan sampan untuk mengembangkan usaha budidaya mereka. Menanggapi hal itu, Wapres meminta pemerintah daerah melakukan pendataan yang lebih detail agar bantuan dari pusat bisa tepat sasaran.
Hilirisasi: Jangan Kirim Bahan Mentah Terus
Gibran menegaskan bahwa modernisasi tidak hanya soal alat produksi, tetapi juga pengolahan pascapanen. Ia menyebut kualitas rumput laut Rote unggul dibanding daerah lain, terutama karena kandungan karaginannya yang tinggi. Namun, potensi itu harus dioptimalkan melalui hilirisasi.
"Kalau kita sekarang sudah salah satu produsen dan eksportir rumput laut terbesar di dunia, tapi kita tidak boleh kirim barang mentah terus. Jadi harus bisa diolah di sini. Jadi ada hilirisasi rumput laut," tegasnya.
Menurut Gibran, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ketahanan pangan nasional dan hilirisasi komoditas unggulan daerah. Tujuannya agar nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara langsung.
Rantai Produksi yang Perlu Dimodernisasi
Wapres merinci sejumlah titik yang perlu diperbaiki dalam rantai produksi rumput laut di Rote Ndao. Mulai dari penggunaan bibit unggul, perbaikan alat produksi dan sampan, hingga penyediaan fasilitas pascapanen seperti pengeringan, gudang, sortir, dan pengemasan.
"Ada bibit unggul, sampannya kita perbaiki, alat-alatnya kita perbaiki. Untuk pascapanennya ada pengeringan, gudang, sortir, packing," ujarnya.
Ia menambahkan, jika pembudidayaan secara tradisional saja sudah berjalan cukup baik, maka dengan modernisasi hasilnya dipastikan akan jauh lebih optimal. Kunjungan kerja satu hari ini juga merupakan bagian dari peninjauan Proyek Strategis Nasional (PSN) kawasan sentra industri garam nasional (K-SIGN) di kabupaten terselatan NKRI tersebut.