KUPANG — Panen raya jagung di Lapas Kelas IIA Kupang bukan sekadar agenda seremonial. Di balik tumpukan tongkol jagung yang dipanen, ada cerita tentang transformasi lahan karang yang sebelumnya dianggap tidak produktif menjadi ladang yang menghasilkan puluhan ton jagung.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menyebutkan bahwa dari lahan dua hektare dengan 28 kilogram benih yang ditanam, panen kali ini mencapai 10 ton. "Ini bukan hanya keberhasilan pertanian, tetapi bentuk dukungan kami terhadap kemandirian pangan," ujarnya di Kupang, Jumat.
Lahan Karang Disulap, Warga Binaan Jadi Petani
Proses pengelolaan kebun jagung ini melibatkan langsung warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Kupang. Mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga mengikuti program pembinaan kemandirian di bidang pertanian.
Ketut menegaskan bahwa pemasyarakatan saat ini tidak sekadar menjalani masa pidana. "Bagaimana negara hadir membina dan mempersiapkan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat," tambahnya. Bekal keterampilan bertani ini diharapkan membuat mereka mandiri dan produktif setelah bebas nanti.
Kolaborasi dengan PT SMJ dan Program SAE
Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama dengan PT SMJ melalui Program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin, menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan prinsip 5P perusahaan: pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil.
"Kami fokus pada pemberdayaan yang saling menguntungkan serta memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar warga binaan memiliki keterampilan yang berdampak nyata," ujar Silvester.
Jawaban untuk Lahan Tidur di NTT
Anggota DPD RI Perwakilan NTT, Abraham Lianto, menilai panen raya ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain di NTT yang memiliki banyak lahan tidur dengan kontur tanah berbatu serupa. Menurutnya, di tengah isu El Nino dan kenaikan harga pangan, jagung bisa menjadi bahan pangan alternatif saat musim kelaparan.
"Dari kegiatan ini, kita bisa mengambil makna penting. Lahan berbatu yang terbukti bisa disulap melalui kolaborasi," ujarnya.
Program panen jagung ini juga menjadi bentuk dukungan nyata Pemasyarakatan terhadap program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden dan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Bagi warga Kupang dan NTT, ini adalah bukti bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak produktif.