MALAKA — Jalan provinsi penghubung antar desa di Kecamatan Malaka Tengah, tepatnya di ruas Weklese, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Aspal hotmix yang baru dihampar awal tahun ini sudah mengelupas di beberapa segmen, dan sebagian badan jalan ambles hingga nyaris putus total. Warga setempat mengaku khawatir akses transportasi akan lumpuh total jika tidak segera ada perbaikan.
Kerusakan Muncul Beberapa Bulan Setelah Perbaikan
Proyek peningkatan jalan sepanjang sekitar 12 kilometer itu rampung dikerjakan pada triwulan pertama 2025. Namun, sejumlah titik rawan longsor dan genangan air mulai menunjukkan keretakan serius setelah musim hujan menerjang beberapa pekan terakhir. Di satu titik, material aspal bahkan terangkat dan meninggalkan lubang besar selebar dua meter.
“Kami baru menikmati jalan mulus beberapa bulan, sekarang malah lebih parah dari sebelum diperbaiki,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya kepada Pos Kupang. Ia menambahkan bahwa kendaraan roda dua kerap kesulitan melintas di malam hari karena minim penerangan dan kondisi jalan yang rusak.
Warga Terdampak: Aktivitas Ekonomi dan Pendidikan Terganggu
Kerusakan jalan ini langsung berdampak pada mobilitas warga. Petani di Weklese kesulitan mengangkut hasil bumi ke pasar di Kota Betun, ibu kota Kabupaten Malaka. Sementara itu, anak-anak sekolah terpaksa berjalan kaki lebih jauh atau menumpang kendaraan bak terbuka untuk sampai ke sekolah.
- Akses terisolasi: Tiga dusun di sekitar Weklese nyaris tidak bisa dilalui kendaraan roda empat saat hujan deras.
- Biaya transportasi naik: Ongkos angkutan umum dari Weklese ke Betun meningkat hingga dua kali lipat karena sopir harus memutar lewat jalur alternatif yang lebih panjang.
- Distribusi logistik terhambat: Pasokan sembako dan bahan bangunan ke desa-desa terdampak mulai tersendat dalam sepekan terakhir.
Apa Langkah Pemkab Malaka Selanjutnya?
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Malaka mengakui adanya kerusakan di ruas Weklese. Pihaknya masih menunggu hasil evaluasi teknis dari tim lapangan untuk menentukan apakah perbaikan bisa dilakukan dengan anggaran pemeliharaan rutin atau perlu pengajuan anggaran tambahan.
“Kami sudah menurunkan petugas untuk mendata titik-titik kritis. Sementara ini, penambalan darurat akan dilakukan agar jalan masih bisa dilalui,” ujar pejabat dinas tersebut. Namun, ia belum bisa memastikan kapan perbaikan permanen dimulai karena keterbatasan anggaran daerah.
Jalan Provinsi yang Rentan: Antara Kontur Lahan dan Cuaca Ekstrem
Kondisi geografis Malaka yang berbukit dan curah hujan tinggi menjadi faktor utama cepat rusaknya jalan di wilayah ini. Drainase yang tidak memadai membuat air menggenang di badan jalan dan menggerus lapisan aspal dari bawah. Beberapa warga mendesak pemerintah untuk membangun talud dan saluran air sebelum melakukan pengaspalan ulang.
“Kalau drainase tidak dibenahi, perbaikan jalan hanya bertahan setahun. Ini sudah pola berulang,” keluh seorang tokoh masyarakat Weklese. Ia berharap Dinas PUPR Provinsi NTT turun tangan karena status jalan ini adalah jalan provinsi, bukan sekadar jalan kabupaten.