NUSA TENGGARA TIMUR — Menurut laporan CNBC, Musk telah mendiskusikan gagasan menggabungkan Tesla (kapitalisasi pasar sekitar US$1,6 triliun) dengan SpaceX yang ditargetkan melantai di Nasdaq pada 12 Juni mendatang dengan valuasi hingga US$1,75 triliun. IPO SpaceX diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan dana terkumpul sekitar US$75 miliar. Namun, usulan merger ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor tentang konflik kepentingan.
Kendali Voting Timpang: Musk Negosiasi dengan Dirinya Sendiri
Masalah utama terletak pada struktur kepemilikan. Musk memegang sekitar 20% ekuitas Tesla, tetapi menguasai 85,1% hak suara SpaceX melalui kelas saham super-voting. Ketika ia duduk di kedua sisi meja negosiasi, kepentingannya tidak terdistribusi secara merata. Analis Wedbush Dan Ives memperkirakan probabilitas merger mencapai 80-90% pada awal 2027, sementara pasar prediksi Kalsih hanya memberi angka 33%.
Tiga Transaksi Sebelumnya: Dari SolarCity hingga xAI
- SolarCity (2016) – US$2,6 miliar: Tesla mengakuisisi perusahaan panel surya yang merugi di mana Musk menjabat ketua dan pemegang saham terbesar. Gugatan pemegang saham menyebutnya sebagai bailout. Meski pengadilan Delaware menyatakan transaksi itu "wajar", direktur Tesla lain menyelesaikan gugatan dengan membayar US$60 juta. Setelah kasus dimenangkan, Tesla justru menutup sebagian operasi tenaga suryanya.
- Twitter/X (2022-2025): Musk membeli Twitter seharga US$44 miliar, lalu nilainya anjlok 65% menurut valuasi Fidelity. Pada Maret 2025, ia menyuntikkan platform senilai US$9 miliar itu ke xAI dengan valuasi US$33 miliar — secara ajaib memulihkan nilai investasi para pihak terkait.
- xAI (2025-2026): Tesla menggelontorkan US$2 miliar ke perusahaan AI milik Musk pada Januari 2026, meski pemegang saham sebelumnya menolak proposal serupa. SpaceX kemudian mengakuisisi xAI dengan valuasi US$250 miliar. Beberapa pekan setelahnya, Musk mengakui xAI "tidak dibangun dengan benar" dan perlu dibangun ulang — setelah uang pemegang saham Tesla dan SpaceX sudah tersedot.
Risiko bagi Pemegang Saham Tesla: Menampung Beban SpaceX
Jika merger terjadi, pemegang saham Tesla akan menggabungkan perusahaan senilai US$1,6 triliun dengan entitas yang 85,1% suaranya dikuasai Musk — yang kini sudah membawa serta Twitter yang merugi, xAI yang diakui bermasalah, serta bisnis roket dengan valuasi bergantung pada mimpi Mars yang terus tertunda. "Tidak ada orang di korporasi Amerika yang melakukan ini dalam skala seperti Musk," tulis laporan CNBC. "Antara SolarCity, Twitter/X, dan xAI, Musk telah membangun buku pedoman self-dealing yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Fakta Singkat: Skala Self-Dealing Musk
- Total nilai transaksi antar-perusahaan Musk: lebih dari US$79 miliar (SolarCity US$2,6 miliar + Twitter US$44 miliar + xAI US$250 miliar + potensi merger Tesla-SpaceX)
- Kepemilikan saham Musk: 20% di Tesla vs 85,1% voting power di SpaceX
- IPO SpaceX: valuasi target US$1,75 triliun, dana US$75 miliar — terbesar dalam sejarah pasar modal
- Nasib Twitter setelah dibeli Musk: nilai anjlok 65% dalam setahun, lalu "diselamatkan" xAI dengan valuasi 3,6 kali lipat dari harga pasar
Belum ada keputusan resmi dari dewan direksi kedua perusahaan. Namun, pola yang sudah teruji tiga kali sebelumnya membuat banyak analis memperingatkan pemegang saham Tesla untuk mencermati setiap langkah negosiasi — terutama karena Musk duduk di kedua sisi meja.