TIMOR TENGAH SELATAN — Malam di Dusun Noemuke tidak lagi identik dengan kegelapan. Setelah bertahun-tahun hanya diterangi lampu pelita berbahan bakar minyak tanah, warga kini bisa beraktivitas seperti di perkotaan. Program Listrik Desa (Lisdes) yang dijalankan PLN menghadirkan infrastruktur kelistrikan permanen di wilayah yang selama ini terisolir secara geografis.
Dari Lampu Pelita ke Meja Belajar yang Terang
Mama Maria, seorang ibu rumah tangga, masih ingat bagaimana dulu anak-anaknya harus belajar di bawah cahaya lampu pelita yang redup dan berasap. “Kalau dulu malam langsung gelap, anak-anak cepat tidur. Sekarang lampunya terang, mereka bisa duduk belajar lebih lama di meja. PR sekolah jadi selesai, mata juga tidak perih kena asap lagi. Kami sekeluarga senang sekali,” tuturnya dalam keterangan resmi.
Baginya, listrik bukan sekadar penerangan. Kehadirannya memberi kesempatan lebih besar bagi anak-anak untuk mengejar cita-cita tanpa harus terbebani keterbatasan cahaya dan asap minyak tanah.
Peluang Usaha Baru: Es Batu dan Minuman Dingin
Di sektor ekonomi, dampak listrik juga mulai terasa. Yohanes, pemilik warung kelontong kecil di dusun tersebut, kini berencana mengembangkan usahanya. “Dulu jualan terbatas, barang cepat basi karena tidak ada pendingin. Sekarang ada listrik, saya mau coba beli kulkas kecil. Jadi bisa jual es batu sama minuman dingin untuk warga di dusun. Harapannya ada tambahan penghasilan,” ujarnya.
Bagi Yohanes, listrik membuka kemungkinan baru untuk meningkatkan pendapatan tanpa harus merantau ke kota. Warungnya bisa menjadi pusat ekonomi kecil yang menghidupi keluarga.
PLN Bangun 1 Km Jaringan Tegangan Menengah di Medan Berbukit
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur, F. Eko Sulistyono, menjelaskan bahwa medan berbukit dan akses terbatas menjadi tantangan utama pembangunan infrastruktur. Untuk menghadirkan listrik ke Noemuke, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 1,03 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 4,9 kms, serta gardu distribusi berkapasitas 50 kVA.
“Wilayah seperti Noemuke memerlukan kesiapan teknis dan waktu. Dengan infrastruktur yang sudah beroperasi, kami berharap listrik ini dapat dimanfaatkan warga untuk mendukung berbagai aktivitas produktif sehari-hari,” ujar Eko.
Bupati TTS Apresiasi, PLN Targetkan Tak Ada Lagi Desa Gelap
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, menyampaikan apresiasi atas beroperasinya jaringan listrik di Noemuke. “Kami memahami setiap wilayah di TTS memiliki tantangan geografis yang berbeda. Pembangunan listrik dilakukan bertahap sesuai kemampuan teknis dan alokasi anggaran. Kami berharap listrik di Noemuke ini bisa membantu anak-anak belajar lebih baik dan warga mulai mengembangkan usaha kecil di rumah,” ujarnya.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa setiap rumah yang berhasil dialiri listrik di pelosok negeri memiliki cerita dan harapan yang berbeda. “Hadirnya listrik menjadi fondasi untuk mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta membantu mengentaskan kemiskinan. PLN terus berkomitmen agar tidak ada lagi masyarakat yang hidup dalam kegelapan,” jelasnya.
Kini, saat malam tiba di Noemuke, pemandangan yang terlihat tidak lagi sama. Dari dusun yang akrab dengan gelap, Noemuke menatap masa depan dengan harapan yang lebih terang.