JAKARTA — Rupiah melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini, Kamis (18/6/2026), setelah sehari sebelumnya juga tercatat turun 0,21 persen. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga tahun ini.
"Sehingga memicu sentimen risk off di mana pasar menghindari risiko," ujar Lukman.
Kisaran Pergerakan Rupiah dan Indeks Dolar AS
Lukman memprakirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS diproyeksi menguat ke level 100,31-100,38, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
BI Rate Jadi Fokus Utama Pasar Hari Ini
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan atau BI Rate pada siang hari ini. Tim Analis Mirae Asset Sekuritas memprakirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,5 persen.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah akumulasi kenaikan 75 basis poin sejak Mei 2026. Menurut dia, BI masih akan fokus pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
"Arah rupiah dan sentimen risiko global menjadi pemicu utama keputusan kebijakan," ujar Rully.
Target Stabilitas dalam Jangka Pendek dan Menengah
Rully memperkirakan BI akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen kebijakan untuk mendorong rupiah bergerak menuju kisaran kenyamanan, yaitu sekitar Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Menurutnya, meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak membuka ruang lebih besar bagi stabilisasi nilai tukar, terutama dalam jangka pendek dan menengah.