FLORES TIMUR — Maria Marni Belang, 46 tahun, tetap duduk di lapaknya di Pasar Boru, Kecamatan Wulanggitang, pada 8 Juni lalu, saat rekan-rekannya berhamburan meninggalkan pasar. Abu vulkanik kembali menyembur dari Gunung Lewotobi Laki-Laki yang hanya berjarak tujuh kilometer dari lokasi itu.
"Bukan karena saya tidak takut. Tetapi kami tidak punya pilihan lain selain mencoba bertahan," kata Marni.
Penghasilannya hari itu hanya Rp400 ribu, separuh dari hari-hari biasa yang bisa mencapai Rp1 juta. Ikan yang tidak laku, ia jemur untuk dijual lagi keesokan harinya. Anak ketiganya kuliah di luar kota dan membutuhkan uang registrasi.
1.340 Kali Erupsi dalam 10 Bulan Terakhir
Lewotobi Laki-Laki, gunung kembar setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut, tidak pernah benar-benar berhenti sejak letusan dahsyat 4 November 2024. Erupsi malam itu menewaskan sembilan orang, termasuk Suster Nikolin Padjo, SSpS, 59 tahun, yang tewas akibat lontaran lava pijar jatuh tepat di kamarnya.
Populasi terdampak mencapai 2.734 kepala keluarga atau sekitar 10.295 jiwa. Pada puncaknya, jumlah pengungsi tercatat 13.116 jiwa. Pemerintah menetapkan masa tanggap darurat 58 hari, dari 4 November hingga 31 Desember 2024.
Badan Geologi menaikkan status gunung ke Level IV atau Awas pada 13 Februari 2025. Erupsi besar kembali terjadi pada 20 Maret 2025, menyebabkan dua warga luka bakar dan dirawat intensif di Rumah Sakit Umum dr. Fernandez Larantuka. Hingga 16 Agustus 2025, gunung telah erupsi 1.340 kali, delapan di antaranya berskala besar.
Hunian Tetap Belum Memberi Kepastian
Marni adalah penyintas dari Desa Nobo, Kecamatan Ilebura, yang berjarak hanya 4,9 kilometer dari puncak. Ia dievakuasi ke posko pengungsian di Desa Konga saat erupsi November 2024, lalu direlokasi ke hunian tetap di Kuhe dan Kureng. Namun, hunian itu tidak memberi banyak pegangan.
"Semua serba terbatas, tak ada yang bisa diandalkan, bahkan bantuan pemerintah sekalipun. Bantuan dari pemerintah tidak selamanya ada, jadi kami harus cari jalan sendiri," ujarnya.
Jalan yang dimaksud Marni: berjalan kaki pulang-pergi ke Nobo setiap hari untuk mengurus kebun dan ternak, mengambil ubi dan sayuran. Sejak pertengahan 2025, ia dan beberapa warga mulai memberanikan diri menginap di sana. Setiap Senin, ia ke Pasar Boru. Setiap hari, ia mengumpulkan buah bidara. Bersama suaminya, ia membuat batu merah.
Melewati Zona Bahaya Demi Lapak Sayur
Pedagang sayur Maha Rotan harus melintasi dua titik yang masuk peta risiko bencana untuk mencapai Pasar Boru: Desa Nawokote (radius 4,8 km dari puncak) dan Dusun Podor, Desa Boru (5,1 km). Kedua titik itu berpotensi terdampak awan panas, aliran lava, dan banjir lahar.
Setiap pagi sebelum berangkat, Maha membuka media sosial, memantau unggahan terbaru dari pos pemantau Lewotobi Laki-Laki. "Kalau dari tempat kami, dampa..." katanya, tidak melanjutkan kalimatnya.
Pada 8 Juni, PVMBG mencatat 11 kali erupsi dalam sehari. Angka itu naik menjadi 14 kali pada 9 Juni, 13 kali pada 10 Juni, dan 17 kali pada 11 Juni. Kolom abu kelabu tebal bergerak condong ke barat dan barat laut.
"Saat ini, Gunung Api Lewotobi Laki-Laki berada di Level III atau Siaga, sehingga kami merekomendasikan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi," kata Herman Yosef Tobi, petugas pos pemantau, pada 11 Juni.
Radius lima kilometer itu mencakup Pasar Boru dan permukiman tempat para perempuan ini tinggal. Namun, seperti kata Marni, mereka tidak punya pilihan lain selain bertahan.