SOE — Program magang yang berlangsung sejak 8 Juni 2026 ini melibatkan 80 petani asal Kabupaten Flores Timur, 35 petani dampingan Caritas Indonesia, dan 20 petani dampingan Plan Indonesia. Seluruh peserta mempelajari praktik pertanian di Kelompok Tani Tithetnao, Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, TTS.
Praktik Pertanian Modern yang Dipelajari Peserta
Selama dua pekan, para petani tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Materi utama yang didalami mencakup tiga pendekatan strategis: Good Agricultural Practices (GAP), Climate-Smart Agriculture (CSA), dan Youth-Led Agri-food (YLAF).
Pendekatan GAP menekankan pada teknik budidaya yang baik dan benar untuk meningkatkan produktivitas. Sementara itu, CSA mengajarkan cara beradaptasi dengan perubahan iklim, seperti pengelolaan air dan pemilihan varietas tanaman tahan cuaca ekstrem.
Pendekatan YLAF menjadi sorotan karena menempatkan generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan sektor pertanian. Hal ini dinilai krusial untuk regenerasi petani di NTT yang mayoritas berusia lanjut.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Pemerintah Daerah
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Plan Indonesia, GIZ, Bappenas, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten TTS, Krisna Foundation, dan Caritas Indonesia. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan komitmen bersama dalam membangun ketahanan pangan di kawasan timur Indonesia.
Penutupan program ditandai dengan kegiatan refleksi lapangan di lokasi magang. Para peserta berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama dua pekan belajar di TTS, yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di NTT.
Dampak bagi Ekonomi Lokal dan Kedaulatan Pangan NTT
Magang ini diharapkan menjadi katalis bagi pengembangan ekonomi lokal berbasis pertanian berkelanjutan. Para petani yang kembali ke daerah asal masing-masing diharapkan mampu menerapkan teknik yang sudah dipelajari, terutama dalam menghadapi ancaman kekeringan dan gagal panen yang kerap melanda NTT.
Dengan membawa pulang pengetahuan tentang pertanian cerdas iklim, para peserta dapat menjadi agen perubahan di komunitasnya. Program ini juga menjadi model kolaborasi lintas daerah yang bisa direplikasi di wilayah lain di Indonesia.