Pencarian

Harga Kredit Investasi Berpotensi Naik, Pengusaha Ritel Tunda Ekspansi Usaha

Senin, 22 Juni 2026 • 12:34:31 WIB
Harga Kredit Investasi Berpotensi Naik, Pengusaha Ritel Tunda Ekspansi Usaha
Pengusaha ritel menunda ekspansi akibat potensi kenaikan biaya kredit investasi.

NUSA TENGGARA TIMUR — Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) angkat suara di tengah kekhawatiran dunia usaha atas tren kenaikan suku bunga. Organisasi yang mewadahi pengusaha ritel ini menyoroti potensi kenaikan biaya kredit investasi yang bisa menggerus rencana perluasan bisnis.

"Naiknya kredit itu bisa, bukan menahan, tetapi mungkin salah satu pertimbangan untuk menghitung ulang. Ini yang investasinya menggunakan bank," ujar Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah saat dihubungi, Minggu (21/6/2026).

Dampak Berantai ke Sektor Riil

Kenaikan suku bunga acuan yang digencarkan pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dinilai memiliki efek domino. Sektor riil, khususnya ritel dan properti, menjadi yang paling pertama merasakan tekanan. Pasalnya, kedua sektor ini sangat bergantung pada pembiayaan perbankan untuk modal kerja dan investasi.

Budihardjo menambahkan, meskipun ada sisi positif dari kenaikan suku bunga, yaitu potensi kenaikan bunga simpanan yang diharapkan bisa mendorong konsumsi masyarakat, dampak jangka pendek terhadap biaya pinjaman tetap menjadi momok. "Kenaikan bunga simpanan bisa menjadi stimulus konsumsi, tapi efeknya tidak instan," jelasnya.

Penjualan Otomotif Ikut Tertekan

Kekhawatiran serupa juga melanda sektor otomotif. Industri ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga karena mayoritas pembelian kendaraan dilakukan melalui skema kredit. Kenaikan bunga kredit otomatis akan menaikkan cicilan bulanan konsumen, yang berpotensi menekan angka penjualan.

Belum ada data resmi mengenai proyeksi penurunan penjualan dari asosiasi otomotif. Namun, pengusaha di sektor ini mulai mengantisipasi perlambatan permintaan dalam beberapa bulan ke depan jika tren suku bunga terus berlanjut.

Fakta Singkat:

  • Hippindo mewadahi peritel dan penyewa pusat perbelanjaan di Indonesia.
  • Kenaikan suku bunga bertujuan menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
  • Sektor ritel dan otomotif adalah sektor dengan paparan kredit konsumsi dan investasi tertinggi.

Para pelaku usaha kini menunggu keputusan lanjutan dari Bank Indonesia terkait arah suku bunga ke depan. Jika tekanan terhadap rupiah mereda, harapan untuk stabilitas biaya pinjaman masih terbuka. Namun, jika tekanan berlanjut, dunia usaha harus bersiap dengan biaya modal yang lebih mahal.

Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks