SOE — Sepak bola yang selama ini identik dengan laki-laki di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mulai diisi oleh anak-anak perempuan. Melalui program Girls Football, sebanyak 380 anak perempuan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kini rutin berlatih dan bertanding.
Mereka tidak hanya belajar teknik dasar bermain bola, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan menantang stereotipe gender yang sudah lama mengakar di masyarakat. Program ini menjadi ruang baru bagi anak perempuan di daerah untuk berkembang dan mengejar mimpi.
Bermimpi Menjadi Pemain Profesional dan Membela Timnas
Para peserta program tidak sekadar bermain untuk kesenangan semata. Mereka memiliki mimpi besar, yakni menjadi pemain sepak bola profesional hingga suatu hari nanti bisa membela Timnas Indonesia.
"Kami ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa bermain sepak bola dan berprestasi," ujar salah satu peserta program Girls Football di TTS.
Semangat ini menunjukkan perubahan pola pikir generasi muda di NTT. Sepak bola, yang dulunya dianggap sebagai domain eksklusif laki-laki, kini mulai dilihat sebagai olahraga universal yang bisa dimasuki siapa saja tanpa memandang gender.
Mengubah Pandangan Masyarakat Soal Peran Perempuan
Program Girls Football tidak hanya berfokus pada aspek olahraga. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi medium untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender. Anak-anak perempuan diajarkan untuk berani bersuara, percaya diri, dan tidak takut mengejar apa yang mereka inginkan.
Di Timor Tengah Selatan, di mana budaya patriarki masih cukup kuat, kehadiran program ini menjadi angin segar. Para orang tua dan tokoh masyarakat mulai memberikan dukungan, melihat sendiri bagaimana anak-anak perempuan mereka berkembang menjadi lebih percaya diri dan aktif.
Program ini membuktikan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari hal sederhana, seperti bermain sepak bola di lapangan kampung.