NUSA TENGGARA TIMUR — Loris Karius menyapu bersih enam tembakan Bayern Munich dalam laga 0-0 pada 5 September, lalu mengulang status man of the match saat Schalke 04 menang 3-1 atas Union Berlin sepekan berselang. Dua penampilan beruntun itu menandai kebangkitan kiper 33 tahun yang sempat kehilangan tempat di sepak bola Eropa.
Schalke 04 menahan Bayern Munich tanpa gol di Bundesliga, dan Karius jadi tembok terakhir yang tidak bisa dilewati. Enam tembakan tepat sasaran Bayern berakhir sia-sia di gawangnya.
Penampilan itu bukan kebetulan semata. Sepekan kemudian, Karius kembali dinobatkan sebagai pemain terbaik saat Schalke mengalahkan Union Berlin 3-1 pada 12 September.
Enam Penyelamatan di Gawang Schalke, Bayern Munich Pulang Tanpa Gol
Laga kontra Bayern jadi pembuktian paling telak. Karius menghalau seluruh tembakan yang mengarah ke gawangnya, termasuk peluang-peluang yang biasanya berbuah gol.
Hasil imbang 0-0 itu membuat Schalke tetap kompetitif di papan tengah Bundesliga. Bagi Karius, ini penampilan yang jarang ia dapatkan selama bertahun-tahun terakhir.
Dari Final Liga Champions 2018 ke Bangku Cadangan Empat Musim
Titik terendah karier Karius terjadi di final Liga Champions 2018. Ia tampil sebagai kiper Liverpool melawan Real Madrid dan melakukan dua kesalahan fatal.
Lemparannya diblok Karim Benzema dan berbuah gol. Gol kedua Madrid lahir dari tembakan Gareth Bale yang gagal ia tepis dengan sempurna.
Karius mengaku mendapat teror setelah laga tersebut. Liverpool kemudian meminjamkannya ke tiga klub berbeda, dan ia hanya bermain tujuh kali dari empat musim di ketiga klub itu.
Kontraknya di Liverpool habis pada 2022. Ia sempat bergabung ke Newcastle, tetapi tidak pernah dipercaya sebagai kiper nomor satu.
Schalke 04 Jadi Titik Balik Karier Kiper 33 Tahun
Karius bergabung ke Schalke 04 pada musim dingin 2025. Ia membantu tim tersebut promosi ke Bundesliga, dan di awal musim ini terus dipercaya sebagai kiper utama.
Dua gelar man of the match beruntun menjadi sinyal bahwa Karius belum selesai. Pertanyaannya kini, apakah ia bisa menjaga konsistensi sepanjang musim bersama Schalke.