LARANTUKA — Pemerintah Kabupaten Flores Timur mulai bergerak menyiapkan infrastruktur olahraga di Pulau Adonara. Stadion Apebuan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu arena sepak bola kebanggaan warga di wilayah kepulauan itu, akan mendapat suntikan dana segar sebesar Rp750 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.
Kepala Dinas PUPR Flores Timur, Yohanes Berchmans Tukan, mengatakan dana tersebut akan difokuskan pada penataan area parkir dan pembukaan akses jalan keluar-masuk stadion. Anggaran itu sudah termasuk biaya perencanaan dan pengawasan proyek.
“Secepatnya kita kerjakan. Jadi anggaran itu termasuk perencanaan dan pengawasan. Jadi dia punya fisiknya sekitar Rp680-an juta. Hanya di Apebuan saja,” kata Yohanes di Larantuka, Rabu (29/7/2026) siang.
Volume Pekerjaan Capai 900 Meter
Yohanes menjelaskan, pembukaan jalan tanah di stadion tersebut memiliki volume sekitar 900 meter. Sementara untuk lokasi tempat parkir, pihaknya masih menunggu keputusan final dari pemilik lahan dan para pihak terkait.
Untuk mempercepat proses pengerjaan, Dinas PUPR mengerahkan sejumlah alat berat ke lokasi. “Mudah-mudahan ada sisa anggaran supaya kita bisa lakukan urpil (urugan pilihan),” ujarnya.
Dua Arena Siap Gelar ETMC 2026
Ketua Panitia Pelaksana El Tari Memorial Cup 2026, Yitno Wada, mengatakan turnamen sepak bola tertua di Nusa Tenggara Timur itu akan digelar di dua tempat: Stadion Apebuan di Pulau Adonara dan Lapangan Gawerato di daratan Larantuka.
Menurut Yitno, dari sisi kesiapan, Flores Timur dinilai sangat siap menjadi tuan rumah. Tugas panitia saat ini adalah memantapkan hal-hal teknis, termasuk kesiapan kedua stadion. “Dari kondisi faktual, Flores Timur dinyatakan sangat siap. Tugas kita selanjutnya adalah memantapkan hal-hal teknis termasuk kesiapan Stadion Apebuan dan Gawerato,” ucapnya, Selasa (28/7/2026).
Dana Sponsor Terkumpul Rp1,3 Miliar
Yitno mengungkapkan, penyelenggaraan ETMC tahun depan mendapat dukungan anggaran dari pihak ketiga. Saat ini dana yang terkumpul baru mencapai Rp1,3 miliar dari total kebutuhan Rp2,3 miliar. Panitia terus berupaya menutup kekurangan tersebut.
Untuk akomodasi, panitia merancang konsep live in bagi setiap kontingen. Rencananya, pemain akan diinapkan di desa-desa sekitar stadion. “Lapangan ini kan di dua wilayah, Adonara dan Larantuka daratan. Nanti kita grouping dulu baru lihat tim yang akan bertanding di Larantuka maupun Adonara. Jadi dalam hal penginapan kita pakai sistem live in, kita inapkan pemain di desa-desa yang nantinya kita lakukan survei,” kata Yitno.
Panitia juga akan menyurvei sejumlah sekolah dan gedung pendukung untuk memastikan fasilitas dasar seperti toilet layak digunakan. “Panitia juga akan bekerja sama dengan paguyuban dari masing-masing tim,” tutup Yitno.