MAUMERE — PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) duduk satu meja dengan para pemangku kepentingan untuk membahas masa depan proyek panas bumi di Flores dan Lembata. General Manager PLN UIP Nusra, RDW. Manurung, bersama jajaran manajemen hadir langsung mendengarkan pandangan dari pemerintah, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat adat di Kampus II IFTK Ledalero, Maumere, Senin (3/8/2026).
Forum ini menjadi ajang bagi warga untuk menyampaikan beragam persoalan, mulai dari dampak lingkungan, tata kelola sumber daya air, status tanah adat, hingga harapan akan manfaat ekonomi yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menimbang Prinsip Laudato Si' dalam Pengembangan Geothermal
Diskusi tidak hanya menyoroti aspek teknis kelistrikan. Para peserta diajak membahas penerapan prinsip Laudato Si', ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap lingkungan, sebagai landasan etis dalam mengelola proyek energi panas bumi di wilayah tersebut.
VP Panas Bumi PT PLN (Persero) Kantor Pusat, Maternikus Tigor M. Situmorang, menegaskan bahwa seluruh masukan yang hadir dalam forum tersebut akan menjadi bahan evaluasi berkelanjutan bagi perusahaan. "Pengembangan panas bumi merupakan proses yang memerlukan kolaborasi dan komunikasi yang berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan. Setiap masukan yang kami terima menjadi bahan evaluasi untuk terus menyempurnakan pelaksanaan proyek," ujarnya.
PLN Buka Ruang Dialog untuk Jaga Kepercayaan Publik
Manajer UPP Nusra 3, Agung Triwibowo, menyebut komunikasi yang intensif adalah kunci keberhasilan proyek PLTP Ulumbu. Pihaknya berkomitmen menjawab setiap pertanyaan warga secara terbuka berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami meyakini bahwa komunikasi yang baik akan memperkuat kepercayaan dan mendukung kelancaran pelaksanaan proyek," kata Agung di hadapan peserta forum.
Keberhasilan Proyek Tak Hanya Soal Infrastruktur
RDW. Manurung menambahkan, pembangunan infrastruktur hanyalah satu sisi dari keberhasilan proyek. Sisi lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjaga hubungan baik dan membangun kepercayaan dengan masyarakat.
PLN mengaku telah menjalankan sejumlah pendekatan untuk menjembatani komunikasi, termasuk sosialisasi, Forum Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (FPIC), serta dialog bersama tokoh masyarakat dan masyarakat adat. "Kami meyakini bahwa pengembangan energi panas bumi harus berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap nilai-nilai sosial budaya, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tegas Manurung.
Melalui forum ini, PLN UIP Nusra berharap seluruh tahapan proyek PLTP Mataloko dan PLTP Ulumbu dapat terus disempurnakan, transparan, serta memberikan dampak positif yang optimal bagi warga Flores dan Lembata.