NUSA TENGGARA TIMUR — Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru sejumlah bahan bakar minyak nonsubsidi per Minggu (27/9/2026), dengan Pertamax tetap Rp15.950 per liter sementara Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan. Penyesuaian ini berlaku sejak Rabu (2/9/2026) dan menyasar produk nonsubsidi saja, tidak menyentuh bahan bakar bersubsidi. Perbedaan harga antardaerah membuat pembeli di luar Jawa membayar lebih mahal untuk produk yang sama.
Paragraf pembuka: VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan penyesuaian harga hanya menyentuh sebagian produk nonsubsidi. Menurut dia, keputusan itu mempertimbangkan keekonomian, daya beli, serta kondisi sosial masyarakat. Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 justru tidak ikut disesuaikan.
Rincian Harga per Liter di Wilayah PBBKB 5 Persen
Di wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen, seperti DKI Jakarta dan sekitarnya, Pertamax Turbo dibanderol Rp19.600 per liter. Harga itu naik dari sebelumnya Rp18.300 per liter.
Pertamax Green 95 dijual Rp19.150 per liter, melesat dari Rp16.600 per liter. Kenaikan serupa terjadi pada Dexlite yang kini Rp23.700 per liter dari Rp19.700, dan Pertamina Dex menjadi Rp25.200 per liter dari Rp21.150.
Pertamax Jadi Penahan di Tengah Kenaikan
Pertamax tetap di Rp15.950 per liter. Angka itu menjadikannya pilihan termurah di antara produk nonsubsidi Pertamina yang dijual di wilayah PBBKB 5 persen.
Keputusan menahan harga Pertamax sekaligus menaikkan produk lain memberi ruang bagi konsumen untuk beralih ke opsi yang lebih terjangkau. Namun, bagi pengguna kendaraan yang membutuhkan oktan lebih tinggi atau performa mesin lebih baik, pilihan tetap terbatas pada produk yang harganya naik.
Harga Beda Tiap Wilayah
Harga BBM nonsubsidi Pertamina memang tidak seragam di seluruh Indonesia. Besaran PBBKB yang ditetapkan masing-masing pemerintah daerah membuat harga di luar Jawa dan daerah dengan tarif pajak lebih tinggi bisa berbeda dari acuan Jakarta.
Konsumen di wilayah dengan PBBKB di atas 5 persen akan membayar lebih mahal untuk jenis produk yang sama. Karena itu, pengecekan harga sebaiknya dilakukan lewat laman resmi Pertamina atau aplikasi MyPertamina sesuai domisili masing-masing.
Konteks Anggaran Subsidi
Kenaikan harga produk nonsubsidi ini terjadi di tengah rencana pemerintah memangkas anggaran subsidi BBM dan gas elpiji 3 kilogram sebesar Rp11,44 triliun mulai tahun depan. Pemangkasan itu menandakan ruang fiskal untuk menahan harga energi bersubsidi makin sempit.
Pertamina Patra Niaga sebagai anak usaha Pertamina yang menangani distribusi bahan bakar ritel berada di posisi menegakkan dua kepentingan sekaligus: menjaga margin keekonomian produk nonsubsidi dan memastikan pasokan tetap lancar di seluruh wilayah.
Penutup: Bagi konsumen, kenaikan ini menuntut perhitungan ulang biaya transportasi harian, terutama pengguna kendaraan diesel yang terdampak paling dalam. Sementara Pertamax yang ditahan di Rp15.950 menjadi satu-satunya titik stabil di daftar harga nonsubsidi Pertamina edisi akhir September 2026.