Pencarian

Krisis Harga RAM Ancam Masa Depan PC Genggam, MSI Claw 8 EX AI+ Tembus Rp 30 Juta

Minggu, 16 Agustus 2026 • 18:58:01 WIB
Krisis Harga RAM Ancam Masa Depan PC Genggam, MSI Claw 8 EX AI+ Tembus Rp 30 Juta
MSI Claw 8 EX AI+ dibanderol Rp 29,6 juta di tengah krisis harga RAM yang memengaruhi industri PC genggam.

NUSA TENGGARA TIMUR — Krisis harga RAM yang melanda industri teknologi sepanjang 2025 hingga 2026 telah mengubah lanskap harga PC gaming genggam secara drastis. Alih-alih menjadi alternatif terjangkau untuk bermain di mana saja, perangkat handheld kelas atas kini dibanderol setara PC desktop gaming kelas menengah. Fenomena ini memicu pertanyaan besar tentang masa depan kategori perangkat yang sempat dianggap sebagai masa depan gaming portabel.

Harga Handheld Meroket, Performa Jadi Taruhan

MSI Claw 8 EX AI+ yang hadir dengan chip Intel Arc G3 Extreme menjadi contoh nyata dampak krisis ini. Perangkat dengan performa grafis terbaik di kelasnya itu kini dipatok di angka US$ 1.799 (sekitar Rp 29,6 juta). Padahal, pendahulunya, MSI Claw 8 AI+, diluncurkan dengan harga US$ 899 (sekitar Rp 14,8 juta) sebelum mengalami beberapa kali kenaikan harga sepanjang 2025.

Lenovo Legion Go 2 mengalami nasib serupa. Handheld dengan layar OLED tersebut kini dijual seharga US$ 1.999 (sekitar Rp 33 juta) di Best Buy, lebih mahal dari MSI Claw 8 EX AI+ meski performanya lebih rendah. Bahkan varian open-box dengan chip AMD Ryzen Z2 non-Extreme masih dibanderol US$ 1.334 (sekitar Rp 22 juta).

Steam Deck Kini Sulit Direkomendasikan

Valve juga menaikkan harga Steam Deck hingga US$ 300 (sekitar Rp 5 juta), membuat harga minimum perangkat baru kini mencapai US$ 789 (sekitar Rp 13 juta). Dengan harga segitu, banyak gamer mulai membandingkannya dengan ROG Ally non-X yang masih dijual US$ 599 (sekitar Rp 9,9 juta) dan menawarkan performa lebih baik untuk game AAA.

Asus untuk saat ini menjadi satu-satunya pabrikan yang belum menaikkan harga jual lini Xbox handheld mereka di pasar AS. Namun, Windows Central melaporkan kenaikan harga sudah terjadi di beberapa region lain, menandakan pasar AS mungkin hanya soal waktu.

Mengapa Harga RAM Menjadi Biang Kerok?

Jackie Thomas, Hardware and Buying Guides Editor di IGN, menjelaskan bahwa komponen RAM menyumbang porsi biaya lebih besar pada PC genggam dibandingkan PC desktop kelas atas. "Jika biaya 32GB RAM naik dari US$ 150 menjadi lebih dari US$ 400, dampaknya jauh lebih terasa pada handheld seharga US$ 800 daripada tower seharga US$ 3.000 dengan RTX 5080," ungkapnya.

Kabar buruknya, tiga produsen RAM terbesar dunia dikabarkan sudah menjual habis kapasitas produksi mereka hingga 2027. Artinya, harga komponen memori ini tidak akan turun dalam waktu dekat, dan biaya produksi handheld diprediksi tetap tinggi.

Dampak ke Komunitas Gamer Indonesia

Bagi gamer Indonesia yang mengincar PC genggam, kondisi ini membuat keputusan pembelian semakin berat. Dengan budget Rp 10-15 juta, opsi yang masuk akal saat ini hanya ROG Ally non-X atau mencari Steam Deck bekas. Sementara itu, perangkat dengan performa terbaik seperti MSI Claw 8 EX AI+ sudah masuk kategori barang mewah yang bersaing dengan laptop gaming atau PC rakitan kelas menengah atas.

Permintaan Steam Deck sendiri sudah menunjukkan penurunan setelah kenaikan harga tersebut. Jika tren ini berlanjut, pabrikan seperti Lenovo dan Asus bisa saja memutuskan bahwa memproduksi handheld tidak lagi menguntungkan, yang pada akhirnya memperlambat inovasi di kategori ini.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ign.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks