ENDE — Perpanjangan masa tanggap darurat itu lahir dari evaluasi lapangan yang masih memprihatinkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 11.185 gempa susulan hingga 2 September Wita. Sebanyak 165 di antaranya dirasakan, dengan magnitudo terbesar 6,2.
Aktivitas seismik yang belum mereda membuat warga enggan kembali ke rumah bercelah retak. Keputusan gubernur memperpanjang status darurat menjawab pertanyaan besar warga: apakah negara masih menganggap Flores dalam keadaan darurat?
Jawabannya kini jelas: ya. Namun pengakuan administratif belum otomatis menyelamatkan warga. Perpanjangan ini harus dibaca sebagai tenggat kerja, bukan sekadar tanggal baru dalam surat keputusan.
Kerusakan 97.215 Rumah dan Fasilitas Publik yang Tumbang
BNPB mencatat 1.915 fasilitas publik dan 97.215 rumah warga rusak. Rinciannya, 27.294 rumah rusak berat, 22.137 rusak sedang, dan 47.784 rusak ringan. Konsentrasi pengungsi terbanyak berada di Manggarai, disusul Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
Di kampung-kampung yang didatangi tim respons cepat, angka-angka itu menjelma dalam keseharian yang getir. Keluarga bertahan di bawah tenda darurat. Penyandang disabilitas berlindung di bawah terpal bekas.
Warga memeriksa dinding retak setiap pagi sebelum berani masuk kembali. Ketakutan itu bukan tanpa alasan: bumi belum benar-benar tenang.
3.000 Pengaduan Warga: Bantuan Pertama Datang dari Sesama Warga
Tim Respons Cepat Gempa Flores—inisiatif bersama Floresa dan Sunspirit for Justice and Peace—menerima lebih dari 3.000 pengaduan warga hingga 3 September. Isi laporan hampir seragam: warga bertahan berhari-hari sebelum bantuan tiba. Yang pertama menjangkau mereka justru relawan, komunitas lokal, dan lembaga kemanusiaan.
Tim ini telah menyalurkan donasi lebih dari satu miliar rupiah ke lebih dari 200 titik di tujuh kabupaten selama masa tanggap darurat.
Suara protes warga bahkan meletup ke permukaan lewat aksi pengadangan pejabat di sejumlah titik. Video dari Timung, Desa Golo Cador, Kabupaten Manggarai sempat viral: satu RT berisi sekitar 30 kepala keluarga hanya menerima 15 kilogram beras, seperempat liter minyak goreng, satu dus mi instan, dan 10 butir telur.
Bantuan Mengalir, Pemerataan Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Bantuan sebenarnya bergerak dalam skala besar. Ribuan ton logistik masuk melalui Ende, Maumere, dan Labuan Bajo. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membawa dukungan sekitar Rp4,5 miliar.
Figur publik Ferry Irwandi menghimpun lebih dari Rp5 miliar dari penggalangan dana publik. Presiden Prabowo Subianto juga mengunjungi Nagekeo pada 26 Agustus, hari ke-11 pascagempa. Kunjungan itu menunjukkan perhatian negara pada tingkat tertinggi.
Ukuran keberhasilan tanggap darurat tidak berhenti pada jumlah bantuan yang terkumpul. Ukuran yang lebih jujur adalah ketelusuran: apakah bantuan tiba di kampung yang tepat, diterima keluarga yang benar-benar terdampak, cukup untuk kebutuhan beberapa hari, dan datang kembali ketika persediaan habis.
Dalam dua pekan masa perpanjangan ini, pemerintah provinsi dan kabupaten harus membuktikan itu semua. Bantuan harus sampai cukup, berulang, dan terverifikasi kepada keluarga di kampung kecil, jauh, dan paling tidak terlihat.