Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menyusun Rencana Aksi Pangan dan Gizi dengan memasukkan hasil kajian perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi masyarakat sebagai dasar kebijakan pangan lokal. Penyusunan rencana aksi itu dibahas dalam Forum Simpul Pangan Nusantara di Kupang, yang menjadi lokasi pertama dari tiga seri regional sebelum Makassar dan Palembang pada Oktober 2026.
KUPANG — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) NTT Theresia M. Florensia Therisia menyatakan temuan dari perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dan organisasi masyarakat akan dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan pangan. Hasil kajian itu juga akan diintegrasikan ke dalam strategi perubahan RPJMD NTT.
Pernyataan itu disampaikan Theresia usai menghadiri Forum Simpul Pangan Nusantara yang diinisiasi ICRAF Indonesia bersama pemerintah dan akademisi di Kupang, Rabu. Forum tersebut mempresentasikan 31 makalah dan 18 poster ilmiah.
Pengolahan hingga Distribusi Masuk Cakupan Kebijakan
Menurut Theresia, pembangunan pangan tidak cukup berhenti pada peningkatan produksi. Proses pengolahan, distribusi, hingga akses masyarakat terhadap pangan harus masuk dalam kerangka kebijakan.
“Pembangunan pangan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi harus mencakup proses pengolahan, distribusi hingga akses masyarakat terhadap pangan,” kata Theresia.
Struktur perekonomian NTT masih ditopang sektor pertanian. Pemerintah ingin memastikan pengembangan pertanian, perikanan, dan peternakan memberi manfaat langsung bagi petani, nelayan, dan peternak.
Sektor Pertanian Dinilai Tertinggal dari Peternakan
Theresia mengakui sektor peternakan di NTT berjalan baik. Namun sektor pertanian dinilai masih minim dibandingkan capaian peternakan.
“Selama ini memang diakui sektor peternakan berjalan dengan baik, namun dari sisi pertanian masih sangat minim, karena itu berbagai upaya kami lakukan agar sektor pertanian kita juga bisa seperti sektor peternakan,” ujar dia.
Pengembangan pangan juga harus disesuaikan dengan karakteristik dan potensi tiap wilayah. Salah satu agenda yang disorot adalah pemulihan wilayah Flores pascagempa.
Agroforestri Ditawarkan untuk Perkuat Pangan Lokal
Direktur Landscape Alliance Asia Sonya Dewi menilai transformasi sistem pangan perlu melihat keterkaitan antara pertanian, pangan, hutan, dan tata kelola lahan. Pendekatan agroforestri disebutnya bisa memperkuat pangan lokal sekaligus menjaga fungsi ekosistem.
“Menurut saya pendekatan agroforestri, dapat dikembangkan untuk memperkuat pangan lokal sekaligus menjaga fungsi ekosistem,” tegasnya.
Sonya menjelaskan forum simpul pangan nusantara merupakan upaya menyatukan persepsi. Tujuannya agar semua pihak memegang informasi yang sama untuk menjawab kebutuhan transformasi sistem pangan.
43 Kebun Komunal dan 771 Kebun Pekarangan Terbentuk
Program yang dikembangkan mencakup kebun pangan komunal dan pekarangan, penguatan pangan lokal dan gizi, serta kurikulum muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”. Pendekatan itu telah menjangkau 43 kebun pangan komunal dan 771 kebun pekarangan keluarga, didukung delapan rumah benih lokal.
Sebanyak 1.288 peserta mengikuti peningkatan kapasitas terkait pangan lokal dan gizi seimbang. Pembahasan forum mencakup inovasi pertanian cerdas iklim, kelembagaan dan inklusi sosial, diversifikasi konsumsi dan ketahanan gizi, serta tata kelola bentang lahan dan kebijakan.
Setelah Kupang, seri regional Simpul Pangan Nusantara berlanjut ke Makassar dan Palembang pada Oktober 2026.