ATAMBUA — Penutupan dan penarikan peserta berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Senin (31/8/2026). Acara itu dihadiri Dandim 1605 Belu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, Koordinator Pokja Sumber Daya Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, pimpinan perangkat daerah, camat, kepala desa, serta dosen pembimbing lapangan.
Program yang berjalan sejak 9 Juli hingga 31 Agustus 2026 itu merupakan kolaborasi antara LLDikti Wilayah XV, 41 perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan mitra lainnya. Di seluruh NTT, GENTASKIN Batch II melibatkan 2.319 mahasiswa dan 100 dosen pembimbing lapangan yang tersebar di 13 kabupaten. Khusus di Kabupaten Belu, kegiatan menyasar 10 desa dengan dukungan 146 mahasiswa dan 10 dosen pembimbing.
Program yang Dijalankan Mahasiswa di 10 Desa Belu
Selama hampir dua bulan, mahasiswa tidak hanya bergerak di bidang kesehatan. Mereka menjalankan program lintas sektor yang menyentuh banyak aspek kehidupan warga:
- Peningkatan gizi dan pencegahan stunting
- Pemberdayaan ekonomi melalui pertanian, peternakan, dan perikanan
- Pengembangan UMKM dan digitalisasi
- Pendidikan, sosial budaya, hingga penguatan lingkungan
Ketua Panitia Penarikan yang juga Pembantu Ketua I Bidang Akademik STKIP Nusa Timor Atambua, Heriardus Riu Bere, menyebut GENTASKIN menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat. Pada batch kedua ini, lingkupnya diperluas dari penuntasan stunting dan kemiskinan menjadi penguatan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, ketahanan masyarakat, inklusivitas, dan partisipasi aktif warga.
Wabup: Bukan Jumlah Kegiatan, tapi Apa yang Tersisa
Wabup Vicente menegaskan bahwa kedatangan mahasiswa ke desa tidak boleh hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan. Ia mendorong masyarakat untuk melanjutkan inovasi yang sudah dirintis.
"Ukuran keberhasilan KKN bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, melainkan apa yang tersisa setelah mahasiswa meninggalkan desa. Dampak nyata itu terlihat jika masyarakat mampu melanjutkan inovasi, pengetahuan, dan keterampilan yang telah dirintis bersama," tegasnya.
Menurut Vicente, tema GENTASKIN yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Belu. Kemiskinan merupakan persoalan multidimensi yang berkaitan erat dengan pendidikan, kesehatan, dan produktivitas warga.
LLDikti Siapkan Instrumen Ukur Perubahan Kondisi Masyarakat
Agar manfaat program benar-benar terukur, LLDikti Wilayah XV menyiapkan instrumen khusus. Alat evaluasi itu dipakai untuk membandingkan kondisi masyarakat sejak awal pelaksanaan hingga dampak akhir yang dirasakan setelah mahasiswa selesai bertugas.
Koordinator Pokja Sumber Daya LLDikti Wilayah XV, Nina Bere Mau, menyebut proses panjang koordinasi dan perencanaan telah menyamakan persepsi seluruh pihak. Baginya, KKN GENTASKIN bukan sekadar menempatkan mahasiswa di desa, melainkan menghadirkan mereka di tengah realitas sosial masyarakat.
Duka di Tengah Penutupan: DPL Meninggal Saat Bertugas
Acara penutupan juga diwarnai doa untuk Sebastianus Kurniadi Tahu, dosen pembimbing lapangan dari Universitas Citra Bangsa yang meninggal sekitar tiga pekan sebelumnya saat bertugas di Desa Halimodok. Wabup Vicente menyampaikan belasungkawa dan mengajak seluruh hadirin mendoakan almarhum.
Di akhir sambutannya, Vicente mengajak semua pihak menjaga kolaborasi antara gagasan baru mahasiswa, pengalaman lokal masyarakat, dan kebijakan strategis pemerintah. Ia berharap solusi yang lahir dari kolaborasi itu tepat sasaran dan terus bermanfaat bagi warga desa setelah program berakhir.