Pencarian

Konferensi Republik Digelar di Maumere 30-31 Oktober 2026, 39 Tokoh Intelektual Jadi Narasumber

Kamis, 29 Oktober 2026 • 11:17:01 WIB
Konferensi Republik Digelar di Maumere 30-31 Oktober 2026, 39 Tokoh Intelektual Jadi Narasumber
Konferensi Republik digelar di Maumere pada 30-31 Oktober 2026 dengan 39 tokoh intelektual sebagai narasumber.

MAUMERE — Konferensi Republik menyasar 3.000 peserta yang terdiri dari akademisi, aktivis, dan jurnalis untuk membicarakan persoalan bangsa terkini. Pendaftaran dibuka melalui tautan s.id/RegistrasiKonsolnasKR, dan forum digelar luring di dua kampus sekaligus daring.

Rektor IFTK Ledalero Otto Gusti N. Madung menyebut forum ini sebagai perwujudan kedaulatan rakyat sesuai amanat konstitusi. Menurut dia, penyelenggaraan konferensi berangkat dari pertanyaan apakah kebijakan negara selama ini sudah merujuk pada prinsip kedaulatan rakyat.

"Kalau kita merujuk pada konstitusi kita, di sana dikatakan bahwa kedaulatan itu ada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya secara konstitusional," kata Otto Gusti kepada Ekora NTT pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Penurunan Kepercayaan Publik Jadi Latar Belakang

Otto Gusti mengutip tesis Sudirman Said soal situasi "declining trust atau penurunan kepercayaan publik terhadap kekuasaan" yang terjadi saat ini. Menurut dia, penurunan kepercayaan itu muncul meski pemerintah memiliki kekuasaan besar yang didukung mayoritas partai.

"Kenapa terjadi penurunan kepercayaan tersebut, padahal pemerintah sekarang memiliki kekuasaan yang sangat besar didukung oleh mayoritas partai, ada konsentrasi kekuasaan, konsentrasi kebijakan finansial, terjadi resentralisasi kekuasaan. Trust itu tidak dibangun di atas kekuasaan semata, tapi dibangun di atas legitimasi," jelas dia.

Legitimasi, lanjut Otto Gusti, mesti berbasis kapabilitas dan moralitas. Kebijakan mesti diambil berdasarkan riset atau basis intelektual, sekaligus berdasar pada suara rakyat.

Rektor UNIPA: Ruang Perjumpaan untuk Merawat Akar Budaya

Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere Jonas Klemens Gregorius Dori Gobang menilai konferensi ini mempertemukan akademisi, aktivis, dan jurnalis untuk membahas situasi bangsa terkini, termasuk soal budaya. Bagi dia, kebudayaan adalah akar yang harus dirawat agar pohon sejarah tidak tercerabut.

"Bagi kami kebudayaan itu berupa akar yang harus dirawat, dijaga, sehingga akar itu tidak tercerabut sehingga kemudian pohon sejarah itu musnah. Pohon sejarah itu harus terawat, entah itu sejarah peradaban, etnis, atau bangsa agar tidak tercerabut," kata Gery Gobang, sapaan akrabnya.

Gery menyebut forum ini penting untuk menghadirkan rekomendasi bagi pemerintah dari level daerah hingga pusat. Ia juga menyambut peserta dengan identitas budaya Maumere.

"Ruang ini merupakan ruang perjumpaan di mana kita bisa saling bertukar pikiran, bertukar ide, bertukar gagasan, bertukar pengalaman. Itu menjadi pengalaman yang sangat bagus. Karena itu kita menyambut mereka dengan bangga dengan identitas budaya kita," kata dia.

Hasil Konferensi Bakal Disusun Jadi Prosiding

Secara akademik, Konferensi Republik akan menghasilkan prosiding berupa rumusan tertulis berisi kebijakan yang akan disampaikan kepada para pengambil keputusan. Otto Gusti menyebut forum ini sekaligus mengingatkan publik bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat.

"Konferensi Republik ingin mengingatkan publik bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, karena itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kita mengajak rakyat semua untuk menjalankan kedaulatan itu," kata Otto Gusti.

Follow kabarbajo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekorantt.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks