Petani Porang di Manggarai NTT Raup Omzet Rp264 Juta pada 2026, Total Capai Setengah Miliar

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:07:32 WIB
Petani porang di Manggarai NTT berhasil raih omzet Rp264 juta pada 2026.

RUTENGKetua Koptan Kompas Adrianus Harum menyebut produksi porang anggotanya terus melonjak setiap tahun. Pada 2024, hasil panen mencapai 7 ton dengan harga Rp7.500 per kilogram, menghasilkan omzet Rp52,5 juta. Setahun kemudian, produksi naik dua kali lipat menjadi 14 ton dengan harga Rp10.500 per kilogram, mendongkrak omzet menjadi Rp147 juta.

“Pada 2026, saya memperkirakan hasil produksi mencapai sekitar 24 ton. Dengan harga Rp11.000 per kilogram, omzet yang diperoleh diperkirakan mencapai Rp264 juta,” ujar Adrianus kepada TribunFlores.com, Selasa (26/5/2026).

Dampak Ekonomi: Empat Anggota Koptan Berhasil Beli Kendaraan

Keberhasilan budidaya porang tak hanya mengerek omzet kelompok. Adrianus mengungkapkan, empat anggota Koptan Kompas kini telah memiliki kendaraan pribadi—dua unit sepeda motor dan dua mobil pikap, termasuk miliknya sendiri. “Ini berkat kerja keras dan semangat dari kami semua. Budidaya porang ini sangat menjanjikan,” katanya.

Menurut Adrianus, secara keseluruhan, hasil panen porang masyarakat di Desa Ruis, termasuk Desa Persiapan Ruis Timur, bahkan telah menembus lebih dari Rp1 miliar.

Kendala di Lapangan: Jalan Rusak, Bibit Sulit, dan Pencurian

Di balik capaian itu, Adrianus mengakui masih ada sejumlah kendala yang membayangi petani porang. Akses jalan menuju lahan masih rusak, pasokan bibit kerap sulit diperoleh, dan kasus pencurian tanaman porang masih terjadi.

“Kami berharap pemerintah membantu penyediaan bibit, perbaikan jalan, serta pengamanan dari kasus pencurian tanaman porang,” ujarnya.

Perjalanan Panjang: dari Krisis Harga hingga Kebangkitan 2024

Koptan Kompas mulai terbentuk pada 2019 setelah Adrianus menggelar seminar budidaya porang. Pada 2021–2022, harga porang sempat merosot tajam akibat dampak pandemi Covid-19 dan pembangunan industri porang oleh pengusaha. Namun, kelompok ini bertahan dengan terus melakukan sosialisasi dan motivasi ke warga sekitar.

Adrianus menambahkan, dirinya juga menghadirkan Romo Bernard Palus, Pr., untuk memimpin ibadat ekologis panen porang di Kampung Wae Tenda sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama petani. “Melalui usaha porang ini, saya bisa mengajak warga untuk bersama-sama menanam dan memanen porang di kebun saya dengan upah yang layak,” pungkasnya.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: flores.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top