NUSA TENGGARA TIMUR — Pembukaan perdagangan hari ini sudah menunjukkan sinyal negatif. Rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS, melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Level ini kemudian terus merosot hingga menembus ambang batas Rp17.500 yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Tekanan Merata di Asia dan Negara Maju
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang Asia kompak tertekan oleh penguatan dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen. Ringgit Malaysia dan yen Jepang masing-masing terdepresiasi 0,22 persen, sementara yuan China turun tipis 0,01 persen.
Di kawasan negara maju, situasi serupa juga terjadi. Euro Eropa melemah 0,17 persen, poundsterling Inggris turun 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,24 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatatkan penguatan tipis 0,01 persen terhadap greenback.
Tiga Sentimen Negatif Menekan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi setidaknya tiga faktor utama yang menekan rupiah. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran yang menambah ketidakpastian geopolitik. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi terus membebani mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada media. Sentimen ketiga datang dari ekspektasi negatif soal hasil evaluasi indeks MSCI yang dinilai tidak akan menguntungkan pasar saham Indonesia.
Rentang Pergerakan dan Data yang Dinantikan
Pelaku pasar kini juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini. Data tersebut bisa menjadi indikator tambahan mengenai kekuatan konsumsi domestik di tengah tekanan nilai tukar. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS sepanjang hari ini.
Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.