RUTENG — Kopi Arabika dan Robusta asal Colol, Manggarai Timur, yang pernah dinobatkan sebagai kopi terbaik dalam kontes Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia pada 2015, kini menghadapi ancaman serius. Produktivitasnya hanya berkisar 200–300 kilogram per hektare pada 2023–2025, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 610 kilogram per hektare.
Data di lapangan menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Selama tiga tahun terakhir, produktivitas kopi Colol anjlok hingga setengahnya akibat iklim tak menentu, konversi lahan, berkurangnya pohon pelindung, dan usia tanaman yang sudah tua.
Petani Baru Paham Setelah Pelatihan
Arief Laga, fasilitator pelatihan "Kopi Tangguh Iklim" di Desa Gelong, mengaku asumsinya soal persoalan kopi Manggarai runtuh sejak hari pertama. Ia datang dengan anggapan bahwa masalah utama ada di pasar, namun kenyataannya lebih mendasar.
"Petani yang saya temui baru memahami hubungan antara perubahan iklim dan produktivitas kopi setelah mengikuti pelatihan," tulis Arief dalam laporannya. Sebelumnya, perubahan musim dianggap sebagai "nasib alam" yang harus diterima begitu saja.
Gejala kerusakan kebun sebenarnya sudah lama terlihat: kemarau makin panjang, hujan ekstrem memicu erosi, dan tanah kehilangan kesuburan dari tahun ke tahun. Namun, pendampingan teknis hanya datang sesekali lalu menghilang.
Kebun Tua, Metode Tradisional, dan Petani Turis
Mayoritas petani masih mengelola kebun secara turun-temurun tanpa pemupukan dan konservasi tanah. Tanaman kopi berusia puluhan tahun belum pernah diremajakan. Teknik dasar seperti biopori untuk konservasi air masih menjadi pengetahuan baru bagi sebagian petani.
Fenomena lain yang memperparah kondisi adalah apa yang disebut Arief sebagai "petani turis" — mereka yang datang ke kebun hanya saat panen tiba tanpa hadir merawat tanaman sepanjang tahun. Akibatnya, kualitas dan kuantitas panen terus merosot.
Hilir Bergemerlapan, Hulu Terlantar
Ironisnya, perhatian lebih banyak mengalir ke sisi yang paling mudah difoto. Festival kopi digelar, kemasan didesain ulang, konten media sosial dibuat. Hilirisasi bergerak cepat karena hasilnya bisa langsung dipamerkan.
"Kita membangun cerita tentang industrialisasi kopi, tetapi kapasitas produksi di tingkat petani tidak pernah sungguh-sungguh dibenahi," tulis Arief. "Kita mendorong kopi masuk pasar premium, tetapi tidak memastikan bahwa kualitas biji yang dihasilkan konsisten."
Di Desa Gelong, antusiasme petani justru tinggi saat berdiskusi. Mereka ingin belajar dan memperbaiki kebun. Masalahnya bukan pada kemauan mereka, melainkan sistem yang tidak hadir secara konsisten. Pelatihan datang sebagai program, bukan sebagai proses. Pendampingan hadir sebagai kegiatan, bukan komitmen jangka panjang.