NUSA TENGGARA TIMUR — El Clasico Indonesia musim depan akan punya warna baru. Persija Jakarta dan Persib Bandung sama-sama melakukan perombakan di lini depan, dan yang paling merasakan dampaknya justru Borneo FC.
Pesut Etam harus rela kehilangan Mariano Peralta. Pemain asal Argentina itu dilaporkan sudah mencapai kata sepakat dengan Persija untuk musim depan. Kabar ini menguat setelah akun Instagram Peralta mulai mengikuti media sosial resmi Macan Kemayoran, Selasa (26/5) malam WIB.
Statistik Gila Peralta: 20 Gol dan 14 Assist dalam Semusim
Kehilangan Peralta jelas pukulan telak bagi Borneo. Dalam 34 pertandingan Super League 2025/2026, ia mencatatkan 20 gol dan 14 assist—kontribusi langsung yang nyaris mustahil digantikan dalam waktu singkat.
Fabio Lefundes, pelatih yang membesutnya, juga sudah dilaporkan hengkang ke Malut United. Gelandang asal Kolombia, Juan Filipe Villa, sudah mengumumkan perpisahan dengan klub via media sosial pada Senin (25/5). Borneo FC perlahan kehilangan tulang punggung mereka.
Maxwell ke Persib, Peralta Jadi Penggantinya di Persija
Skenario transfer ini seperti lingkaran yang saling mengisi. Maxwell Souza memutuskan meninggalkan Persija Jakarta dan menyeberang ke Persib Bandung. Posisinya di Macan Kemayoran langsung diisi oleh Peralta yang didatangkan dari Borneo.
Persib sendiri sebelumnya dikabarkan juga sempat mengincar Peralta. Namun, dengan kepastian Maxwell bergabung, Maung Bandung memilih tidak melanjutkan perburuan pemain Argentina tersebut.
Federico Barba Incaran Klub Liga Yunani
Tak hanya Peralta dan Maxwell yang menjadi sorotan. Federico Barba, bek Persija lainnya, dikabarkan masuk dalam radar klub asal Liga Yunani yang kini ditangani Walter Mazzarri. Jika hengkang, Persija bisa kehilangan dua pemain asing sekaligus di lini belakang dan depan.
Bursa transfer musim ini baru dimulai, tapi pergerakan sudah menunjukkan intensitas tinggi. Tiga tim papan atas—Persib, Persija, dan Borneo FC—terlibat langsung dalam satu rantai transfer yang saling memengaruhi.
Bagi Borneo, situasi ini jadi alarm. Runner-up Super League 2025/2026 harus bergerak cepat jika tak ingin kehilangan daya saing di musim depan.