ENDE — Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, pada Senin lalu. Di SPBU Wirajaya, antrean kendaraan mencapai ratusan meter sejak pukul 10.00 Wita, sementara kondisi serupa juga terpantau di SPBU Ndao. Kemacetan parah melanda jalan di sekitar kedua lokasi SPBU milik Pertamina tersebut.
Pembatasan Kuota dari Pertamina Sejak Awal Juni
Manajer SPBU 5486303 Wirajaya, Oktavianus Lie, menegaskan bahwa antrean panjang ini bukan disebabkan oleh kelangkaan BBM. Menurutnya, pemicu utama adalah kebijakan pembatasan kuota dari pihak Pertamina yang berlaku sejak awal Juni 2026.
"Untuk solar kuotanya 184 KL, dan pertalite sebanyak 416 KL. Dia kasih kuota itu untuk satu bulan, jadi bukan langka," kata Oktavianus.
Ia menjelaskan, kuota yang diberikan tersebut tidak mencukupi untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan kendaraan di Kabupaten Ende. Untuk menjaga stabilitas pasokan hingga akhir bulan, pihaknya mengatur skema penyaluran harian sebesar 8 hingga 16 KL per hari.
"Kalau sebelumnya kalau tengki habis kita beli lagi, tapi sekarang kan kita harus sesuai dengan yang dikasih," tuturnya. Oktavianus mengaku tidak mengetahui alasan di balik kebijakan tersebut dan hanya menjalankan perintah dari pusat.
Sopir Mengantre Lebih dari 5 Jam, Pendapatan Hilang
Marcel Setu, seorang sopir mobil pikap, mengaku sudah mengantre sejak pukul 11.30 Wita namun hingga pukul 15.30 Wita belum juga mendapat giliran pengisian pertalite. "Memang panjang antrean, saya saja dari jam setengah 12 itu sudah antre, tapi sampai sekarang belum mendapat giliran," ungkapnya kepada Ekora NTT.
Keluhan serupa disampaikan oleh salah seorang sopir angkutan kota yang enggan disebutkan namanya. Ia sudah mengantre sejak pukul 10.00 Wita dan mengaku kehilangan penumpang karena waktu tunggu yang terlalu lama.
"Iya rugi sudah pasti, karena penumpang pastinya tidak mau tunggu karena lama begini," keluhnya.
Sopir angkot itu berharap kondisi ini segera diatasi agar dirinya bersama rekan-rekan sopir lainnya bisa kembali beraktivitas secara normal. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pertamina mengenai kebijakan pembatasan kuota di wilayah Ende.