ENDE — Kebanggaan umat Katolik Flores atas prestasi Uskup Budi Kleden di panggung Gereja universal tidak perlu diragukan. Namun, euforia itu meninggalkan tanda tanya besar: apakah iman hanya berhenti pada simbol kehormatan, atau siap berdiri pada dimensi kenabian yang kerap tak populer?
Kritik Uskup Budi soal Militerisasi Sepi Gaung
Dalam wawancara khusus dengan Floresa yang terbit pada 2 Juli lalu, Uskup Budi menyampaikan keprihatinannya secara terbuka. Ia mempertanyakan urgensi pembangunan fasilitas militer dalam skala besar di berbagai wilayah Flores.
“Sangat mencemaskan,” katanya, seraya menyebut ruang bagi masyarakat sipil semakin menyempit. Pernyataan itu muncul hanya dua hari setelah pengangkatannya di Vatikan.
Namun, gaung dukungan atas kritik ini di media sosial jauh lebih kecil dibandingkan gegap gempita menyambut jabatan barunya di Roma. Perbedaan respons ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang hakikat religiusitas.
Religiusitas Ritualistik vs Dimensi Profetis
Otto Gusti Madung, penulis artikel di Floresa, menyebut fenomena ini sebagai gejala religiusitas yang cenderung ritualistik. Iman lebih banyak diekspresikan melalui perayaan liturgi dan penghormatan kepada otoritas Gereja, bukan keberanian moral di ruang publik.
“Ketika agama berhenti pada simbol dan seremoni, ia kehilangan daya kritisnya terhadap ketidakadilan sosial,” tulisnya. Padahal, dalam tradisi Kitab Suci, para nabi diutus untuk menyuarakan kebenaran yang tidak nyaman.
Uskup Budi sendiri menegaskan bahwa Gereja tidak hidup terpisah dari kenyataan. “Gereja tidak melayang-layang di udara,” ujarnya saat ditanya soal peran Gereja di tengah polemik militerisasi.
Ironi di Tengah Ancaman Ruang Hidup
Ironi semakin terasa ketika tanah-tanah warga di Nagekeo dipatok untuk kepentingan militer, atau ruang hidup masyarakat kampung terancam menyempit. Umat dapat memenuhi gereja setiap hari Minggu, tetapi diam ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.
Teolog Johann Baptist Metz mengingatkan bahwa iman Kristen harus menjadi dangerous memory—ingatan yang mengganggu kenyamanan dan mendorong keberpihakan kepada mereka yang menderita. Sementara Gustavo Gutiérrez menyebut pembelaan terhadap kaum miskin sebagai konsekuensi iman kepada Allah sendiri.
Keamanan Sejati Bukan dari Represi
Dalam wawancara yang sama, Uskup Budi menawarkan perspektif alternatif tentang keamanan. Menurutnya, keamanan sejati tidak lahir dari represi atau rasa takut, melainkan dari masyarakat yang hidup dalam kebebasan dan saling menjaga.
Gagasan ini menempatkan martabat dan kedaulatan sipil, bukan kehadiran kekuatan bersenjata, sebagai fondasi kesejahteraan. Tantangan bagi Gereja di Flores, menurut Otto, bukanlah memilih antara liturgi atau perjuangan sosial, melainkan menghidupi keduanya secara utuh.
“Liturgi yang sejati melahirkan keberanian moral; doa yang otentik melahirkan solidaritas,” tulisnya. Perayaan Ekaristi seharusnya berlanjut dalam pembelaan terhadap martabat manusia di ruang publik.