KUPANG — Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil NTT Romaijon Purba mengungkapkan, pihaknya hanya butuh 100 ton lagi untuk memenuhi target pengadaan tahun ini sebesar 7.300 ton setara beras. "Artinya tinggal sedikit lagi target tahun ini tercapai," ujarnya di Kupang, Rabu.
Lonjakan Serapan di Tengah Musim Panen
Romaijon menjelaskan, pencapaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Di sepanjang 2025, Bulog NTT hanya mampu menyerap sekitar 6.000 ton setara beras hingga akhir tahun. Namun, di tahun 2026 ini, angka tersebut telah terlampaui meski tahun anggaran masih menyisakan beberapa bulan.
Keberhasilan penyerapan didukung oleh meningkatnya produksi padi di sejumlah daerah sentra pertanian. "Kami juga didukung kerja sama dengan pemerintah daerah, kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), penggilingan padi, dan mitra pengadaan," kata Romaijon.
Lima Kabupaten Jadi Sentra Serapan Gabah
Bulog NTT memusatkan penyerapan di lima wilayah utama yang tersebar di dua pulau besar. Di Pulau Sumba, serapan dilakukan di Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Sementara di Pulau Timor, kegiatan berlangsung di Kabupaten Kupang, Malaka, dan Belu. Satu wilayah lagi berada di Rote Ndao.
Romaijon menegaskan, pengadaan gabah dan beras dari petani merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga di tingkat produsen sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah. "Kami akan terus mengoptimalkan penyerapan selama musim panen masih berlangsung agar target pengadaan dapat terpenuhi bahkan melampaui target yang telah ditetapkan," ujarnya.
Target Nasional vs Realisasi Daerah
Capaian Bulog NTT ini menjadi sinyal positif di tengah target nasional penyerapan gabah yang kerap menjadi sorotan. Dengan sisa waktu hingga akhir tahun, Bulog NTT berpeluang menambah stok cadangan pangan pemerintah (CBP) dari sisa panen di beberapa daerah.