KUPANG — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan mendesak seluruh perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur membentuk konsorsium. Tujuannya bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan untuk memperkuat riset terapan dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan.
Mengapa Kampus Harus "Berdosa" Jika Masih Ada Kemiskinan?
Dalam kunjungan kerjanya ke Kupang, Fauzan menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi tidak boleh berjalan terpisah dari realitas sosial di sekitarnya. Ia secara lugas menyebutkan bahwa kampus besar di daerah harus merasa "berdosa" apabila lingkungan di sekitarnya masih dikepung kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya angka partisipasi kuliah.
"Paradigma bekerja sendiri dan berkompetisi harus kita ubah menjadi kolaborasi," kata Fauzan di hadapan para rektor dan akademisi yang hadir dalam Rapat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan dan Peluncuran Program Garuda.
Fokus pada Tiga Sektor: Pertanian, Peternakan, dan Perikanan
Konsorsium yang didorong oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan teknologi tepat guna. Fauzan secara spesifik menyebut sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai prioritas utama—sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi mayoritas warga NTT namun kerap terhambat oleh produktivitas rendah dan keterbatasan akses teknologi.
Riset yang dihasilkan nantinya tidak boleh berhenti di jurnal akademik, melainkan harus langsung diterjemahkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Skema Co-Funding LPDP untuk Memperkuat Pendanaan Riset
Untuk memastikan konsorsium ini berjalan, pemerintah pusat tidak hanya memberikan instruksi. Fauzan menjelaskan bahwa Kementerian akan mendorong sinkronisasi pendanaan riset melalui skema co-funding antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di setiap perguruan tinggi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Skema ini diharapkan menjadi insentif nyata agar kampus tidak lagi bergerak sendiri.
Undana Siap Menjadi Mitra Strategis Pemerintah
Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Jefri S. Bale, menyambut baik dorongan ini. Ia menyatakan bahwa Undana siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat.
"Kehadiran Bapak Wamendiktisaintek menjadi energi baru bagi kami untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berdampak nyata bagi masyarakat," ujar Prof. Jefri.
Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Ekonomi
Lebih jauh, Fauzan mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa dilihat semata dari sisi pendapatan. Menurutnya, persoalan ini juga menyangkut aspek budaya, pola pikir, dan kualitas sumber daya manusia—semua itu menjadi tanggung jawab dunia pendidikan untuk ikut menyelesaikannya. Konsorsium perguruan tinggi di NTT diharapkan menjadi jawaban atas tantangan multidimensi tersebut.