Pencarian

Stunting di Alor Capai 22,59 Persen, 10 Mahasiswa UMM Tembus Perbukitan Demi Turunkan Angka di Desa Probur

Sabtu, 25 Juli 2026 • 16:38:31 WIB
Stunting di Alor Capai 22,59 Persen, 10 Mahasiswa UMM Tembus Perbukitan Demi Turunkan Angka di Desa Probur

MALANG — Badan Pusat Statistik NTT 2025 mencatat Kabupaten Alor memiliki 2.888 balita stunting, dengan rincian 705 jiwa sangat pendek dan 2.184 jiwa pendek. Persentasenya 22,59 persen. Angka ini menjadi dasar keberangkatan sepuluh mahasiswa Fikes UMM yang tergabung dalam KKN Tematik Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (Gentaskin) pada Juli hingga September 2026.

Desa Probur menjadi lokasi fokus karena hasil pemetaan awal menunjukkan mayoritas warga hanya mengandalkan pekerjaan musiman sebagai petani kemiri dan porang. Kondisi finansial terbatas diperparah oleh mitos budaya tentang asupan gizi anak.

Medan Terjal dan Jarak 3 Kilometer yang Ditempuh Kaki

Untuk mendata warga dan melakukan pendampingan, mahasiswa harus berjalan kaki menembus perbukitan sejauh tiga kilometer. Medan geografis yang sulit menjadi ujian fisik tersendiri, namun program berjalan berkat dukungan dosen pembimbing lapangan yang mengurus akomodasi hingga penyesuaian jadwal ujian.

Tim KKN juga bekerja sama dengan puskesmas setempat. Langkah preventif dilakukan melalui pendampingan intensif di posyandu serta pembagian selebaran panduan pencegahan kurang gizi. “Mayoritas masyarakat di sini sangat minim informasi medis dan lebih mempercayai budaya setempat terkait asupan gizi anak, ditambah faktor kemiskinan akibat penghasilan bertani yang tidak menentu menjadi pemicu utama tingginya angka stunting,” ujar Koordinator KKN Tematik Gentaskin Batch 2 Fikes UMM, Tristan Gilang Antoro, dalam keterangan yang diterima di Malang, Sabtu.

Mitos Budaya dan Cara Pendekatan yang Membutuhkan Kepekaan

Tristan menekankan program tidak hanya soal menjalankan kerja, tetapi bagaimana mahasiswa melebur dengan warga. “Pengabdian ini bukan sekadar tentang menjalankan program kerja, melainkan bagaimana cara kami melebur, menghargai budaya lokal, dan melakukan pendekatan tulus hingga masyarakat menganggap delegasi 'Kampus Putih' sebagai bagian dari keluarga mereka,” jelasnya.

Setiap hari mahasiswa berinteraksi humanis – ikut mencari kayu bakar di hutan, menumpang fasilitas sanitasi warga, dan beradaptasi dengan perbedaan bahasa serta kebiasaan. Pendekatan ini secara perlahan meruntuhkan sekat antara mahasiswa dan masyarakat.

Kesiapan Mental dan Fisik Jadi Syarat Mutlak

Pengalaman lintas budaya di Desa Probur menegaskan kemampuan “Kampus Putih” dalam mencetak lulusan dengan kecerdasan sosial yang tangguh. Tristan mengingatkan calon peserta KKN selanjutnya untuk mempersiapkan fisik dan mental. “Kalian mungkin datang dengan keraguan, tetapi dipastikan akan pulang dengan air mata perpisahan,” ucapnya.

Bagikan
Sumber: jatim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks