KUPANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkapkan bahwa 72 persen limbah uang kertas tidak layak edar (TLE) kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Limbah tersebut tidak lagi sekadar dimusnahkan, melainkan diolah menjadi cendera mata khas daerah hingga dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Langkah ini menjadi bagian dari program pengelolaan limbah perbankan yang berkelanjutan. BI NTT berupaya menekan dampak lingkungan dari proses pemusnahan uang rusak, sekaligus mendorong ekonomi sirkular di tengah masyarakat.
Limbah Uang Kertas Disulap Jadi Barang Ekonomis
Dalam praktiknya, limbah uang kertas yang telah melalui proses pengepresan dan sterilisasi diubah menjadi beragam produk. Mulai dari gantungan kunci, hiasan dinding, hingga suvenir bermotif khas NTT yang memiliki nilai jual.
Selain menjadi cendera mata, sebagian limbah juga dialihfungsikan sebagai bahan bakar alternatif. Inovasi ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan metode pemusnahan konvensional yang hanya mengandalkan pembakaran.
Mendukung Ekonomi Sirkular dan UMKM Lokal
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT menyebut program ini sejalan dengan prioritas bank sentral dalam menggalakkan ekonomi hijau. Pemanfaatan limbah uang kertas diharapkan mampu memberikan nilai tambah, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi perajin lokal yang dilibatkan dalam proses produksi.
BI NTT juga membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kupang dan sekitarnya. Produk olahan limbah ini nantinya dapat dipasarkan sebagai buah tangan khas daerah yang memiliki cerita ekologis.
Bagaimana Proses Pengolahan Limbah Uang Kertas?
Proses pengolahan dimulai dari sortasi uang TLE yang masuk ke kas BI. Uang yang sudah tidak layak edar kemudian dihancurkan dengan mesin khusus hingga menjadi serpihan halus.
Serpihan tersebut selanjutnya dipress dan dibentuk sesuai kebutuhan produk. Untuk menjadi cendera mata, bahan baku dicampur resin agar kokoh. Sementara untuk energi, serpihan kertas dikeringkan dan dikonversi menjadi pelet bahan bakar.
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Pariwisata
Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari pegiat lingkungan di NTT. Pengurangan limbah non-organik dari sektor perbankan dinilai menjadi langkah konkret yang bisa ditiru institusi lain.
Di sisi pariwisata, produk cendera mata dari limbah uang kertas menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan yang berkunjung ke NTT kini bisa membawa pulang suvenir unik yang sarat pesan keberlanjutan.
Ke depan, BI NTT berencana memperluas kapasitas produksi dan menjalin kemitraan dengan lebih banyak perajin lokal. Hal ini dilakukan untuk memastikan dampak ekonomi dari program ini dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.